Pipa baja. Antara/Asep Fathulrahman
Pipa baja. Antara/Asep Fathulrahman

Industri Pipa Baja Minta Pemerintah Proteksi Pasar

Dero Iqbal Mahendra • 10 April 2015 17:13
medcom.id, Jakarta: Pelaku industri pipa baja nasional mengeluhkan masifnya penetrasi dari kapasitas pipa baja impor. Mereka berharap pemerintah melakukan kebijakan untuk melindungi industri pipa baja nasional.
 
Meski saat ini industri pipa baja nasional belum mampu memenuhi kebutuhan pipa baja nasional tetapi pelaku industri merasa mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasional bila diberikan kesempatan.
 
"Permintaan pipa baja itu tinggi, pertahunnya bisa mencapai 1,5 juta ton, sedangkan untuk kapasitas pabrikan pipa baja nasional sekitar 900 ribu ton pertahun. Jadi ada selisih tersebut yang seharusnya diisi oleh impor, tetapi persoalannya utilize capacity dari kemampuan pabrik pipa baja nasional itu belum mencapai 100 persen. Saat ini pabrikan pipa baja kapasitas produksinya baru 60-70 persen. Artinya sementara kapasitas produksi pabrikan pipa dalam negeri belum macapai titik maksimal impornya sudh banyak sekali," tutur Presiden Director Bakrie Pipe Industries, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi di Jakarta, seperti dikutip Jumat (10/4/2015).

Dia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan agar utilisasi pabrikan pipa dalam negeri yang salah satu caranya adalah dengan membatasi impor pipa baja yang masuk. Sedangkan untuk bentuk mekanisme pembatasan impor dirinya menyerahkan kepada pemerintah selaku pembuat kebijakan.
 
"Ini menjadi sebuah ironi, dimana permintaan pasar dalam negeri tinggi dan kemampuan kami bisa memenuhi tetapi produk utilisasinya masih separuh dimana selebihnya sudah diisi oleh impor," ujar Wigrantoro.
 
Selain persoalan impor Wigrantoro juga mengeluhkan kurangnya daya saing produk dalam negeri dalam hal harga jual pipa baja nasional yang lebih mahal ketimbang pipa baja impor. Dia melihat ada beberapa faktor eksternal diluar kemampuan para industriawan yang membuat harga jual pipa baja nasional lebih mahal.
 
"Ada banyak kendala dari eksternal yang membuat harga jual menjadi tidak kompetitif. Seperti interest rate, biaya logistik, kebijakan pajak, biaya listrik yang cukup mahal, sehingga membuat harga lebih mahal 20 persen dibandingkan harga pasaran. Padahal harga barang impor jauh lebih murah bisa sampai 25 persen ketimbang barang produksi lokal," ucap Wigrantoro.
 
Berdasarkan kajian yang sudah dilakukan oleh pihaknya Wigrantoro yakin bila secara apple to apple produktivitas antara pabrikan lokal dengan yang ada di Korea berada dalam range yang sama. Namun hal tersebut baru dapat tercapai bila semua faktor eksternal tadi dilepas dan diatur ulang oleh pemerintah agar tidak tercipta high cost economy.
 
Wigrantoro sendiri mengaku bahwa industri pipa baja merupakan industri yang mengikuti pergerakan permintaan dari sektor lain, misalnya seperti migas dan juga properti. Dengan turunnya harga minyak dunia maka sudah tentu kegiatan eksplorasi akan berkurang dan tentunya akan mengurangi permintaan dari pasar, namun untuk pasaran properti sendiri saat ini masih stabil.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WID)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan