<i>Kebijakan Impor Beras Sudah Terlambat</i>
Ilustrasi penjual beras di Cipinang. (FOTO: MTVN/Desi Angriani)
Jakarta: Pengamat pertanian Insitut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso menilai kebijakan pemerintah untuk melakukan impor beras di awal tahun cukup terlambat. Impor 500 ribu ton beras ini seharusnya dilakukan sejak Juli tahun lalu. Pasalnya kini beras yang ingin diimpor dari Thailand dan Vietnam kemungkinan sudah diborong oleh Tiongkok.

"Itu sudah terlambat, seharusnya impor dilakukan sejak Juli, karena dari April kita tahu bahwa harga beras sudah tinggi," katanya saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Jumat, 12 Januari 2018.

Dwi menuturkan, beberapa faktor penyebab fluktuatifnya harga beras tahun lalu juga dipicu oleh kasus PT Indo Beras Unggul (IBU). Kasus pemalsuan kualitas beras tersebut memaksa pedagang harus melepaskan stok beras untuk mengendalikan harga di pasaran.


"Peningkatan harga beras juga disebabkan hebohnya kasus PT IBU hingga harga beras naik di Juli 2017," tambahnya.

Guru Besar IPB tersebut mengaku sudah mewanti-wanti kekurangan pasokan beras di triwulan IV-2017. Menuturnya surplus stok beras yang diklaim Kementerian Pertanian (Kementan) sebesar 17,4 juta ton pada 2017 tidak realistis.

Bulog saja hanya bisa menampung 13 juta ton beras selama setahun sedangkan konsumsi beras nasional setahun hanya separuh dari 17,4 juta ton.

"Saya enggak percaya dengan data Kementan, itu ngawur untuk dijadikan acuan," kata dia.

Meski impor beras dianggap sudah terlambat, Menteri Perdagangan Enggariasto Lukita  memastikan beras kualitas khusus dari Thailand dan Vietnam tetap akan masuk ke Indonesia  pada akhir Januari 2018. Hal ini agar tidak mengganggu petani saat musim panen tiba di Februari nanti.

"Saya enggak mau berandai-andai saya pastikan beras masuk di akhir Januari bahwa ada kelangkaan di dunia saya pastikan tetap masuk," tegas dalam sebuah jumpa pers pada Kamis malam, 11 Januari 2017.

Adapun Kemendag menujuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI sebagai importir. Jenis beras kualitas khusus yang diimpor tidak sama dengan jenis beras yang diproduksi dalam negeri atau IR64. Jenis beras tersebut memiliki spesifikasi bulir patah di bawah lima persen yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 Tahun 2018.

"Jenis berasnya berdasarkan Permendag 01 yang baru kategori beras khusus. Dan yang akan mengimpor adalah PPI," ujarnya.

 



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360