CEO QNET Trevor Kuna menjelaskan bahwa masuknya perusahaan berbasis MLM dan Direct Selling dalam Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) merupakan bukti bahwa perusahaan bisa dipercaya oleh semua pihak. APLI merupakan wadah bagi MLM dan pelaku direct selling di indonesia.
"Sehingga masyarakat yang ingin dan telah bergabung bisa menjalankan kewirausahaannya dengan tenang," kata dia dalam keteranganya, Minggu, 28 Januari 2018.
Dalam menjalankan bisnisnya, QNET mengajarkan para anggota atau Independent Reprensentative (IR) untuk menjadi QNETPRO yang memiliki kekuatan untuk dapat mengedukasi orang dan membantu mereka untuk mengerti makna dari arti sebenarnya jaringan pemasaran dengan meluruskan opini masyarakat mengenai penjualan langsung.
"QNETPRO menekankan prinsip kejujuran, fokus, kerja keras dari semua IR (Independent Representative)-nya," kata dia.
QNET memiliki konsep bisnis penjualan langsung secara global dan berbasis e-commerce yang fokus dalam pengembangan, pemasaran dan distribusi berbagai produk gaya hidup eksklusif.
Sebelumnya, Kepala Satgas Waspada Investasi OJK Tongam L Tobing mengatakan banyak ragam investasi bodong termasuk diantaranya adalah multilevel marketing (MLM). Modus investasi berkedok MLM tidak dilakukan sebagaimana bisnis perdagangan melainkan mencari peserta baru untuk mendapatkan bonus yang lebih tinggi.
"Jadi bukan fokus ke barang untuk dipakai tetapi bagaimana mencari peserta lain untuk ikut investasi ini sehingga dapat bonus," kata Tongam.
Tak hanya itu, Tongam menyebut investasi bodong juga bisa berkedok koperasi. Pada umumnya koperasi memang memiliki izin namun dalam perjalannya kegiatan usaha yang dilakukan tak sesuai dengan perizinan yang telah diperoleh.
"Seperti menjanjikan bisa membuat kredit anggota dengan hanya membayar 60 persen sisa utang masyarakat. Ini menyesatkan," ungkap Tongam.
Ada juga melalui kegiatan perkebunan, misalnya menawarkan pohon jati, gaharu, atau perkebunan singkong. Tongam mencontohkan OJK pernah menemukan investasi bodong dengan modus perkebunan singkong di wilayah Caringin, Sukabumi, Jawa Barat. Investasi itu bahkan menjanjikan bunga sebesar 30 persen.
"Padahal kita tahu singkong tak bisa berbuah setiap bulan. Apalagi dengan keuntungan 30 persen per bulan, tidak masuk akal," katanya.
Tongam menyebut investasi bodong ibarat fenomena gunung es yang selama ini hanya tampak dari luar. Padahal sebenarnya potensi kerugian bagi masyarakat sangat besar di dalamnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News