Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: Kementerian Perindustrian
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: Kementerian Perindustrian

IKM Batik Perlu Tampil di Tiap Pameran Internasional

Ekonomi pertumbuhan ekonomi batik ekonomi indonesia
Ilham wibowo • 29 Oktober 2019 09:16
Jakarta: Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor batik nasional didorong terus berpartisipasi dalam ajang pameran tingkat internasional. Akses pasar perlu terus diperluas dalam mendukung kinerja ekspor dan misi budaya. Kesemuanya itu diharapkan memberi efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
 
"Kami menginginkan kedepannya ada pameran-pameran batik di dunia yang skalanya besar. Misalnya di New York, Paris, London, Tokyo, Sydney, atau kota-kota lainnya yang potensial untuk penetrasi pasar produk batik Indonesia," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, melalui keterangan resmi, Selasa, 29 Oktober 2019.
 
Partisipasi batik dalam pameran dunia juga penting untuk lebih keragaman dan kekhasan budaya batik Nusantara kepada konsumen mancanegara. Sinergi pun dinilai perlu terus terjalin bersama komunitas yang konsisten melestarikan batik seperti Yayasan Batik Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tentunya ini akan memberikan multiplier effect yang luas, dengan menghasilkan devisa dan menciptakan lapangan kerja melalui industri batik itu sendiri," ujar Agus.
 
Agus mengungkapkan industri batik memiliki peran penting bagi perekonomian nasional. Bahkan, industri batik menjadi penggerak perekonomian nasional dan regional, penyedia lapangan kerja, serta penyumbang devisa negara.
 
"Industri batik didominasi oleh pelaku IKM yang tersebar di 101 sentra. Nilai ekspor batik dan produk batik selama periode Januari-Agustus 2019 mencapai USD20,54 juta dengan pasar utamanya ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa," paparnya.
 
Lebih lanjut, industri batik nasional dinilai memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di atas rata-rata dunia. Hal ini membuat Indonesia menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia.
 
Di samping itu, batik yang menjadi identitas bangsa semakin populer dan mendunia. Apalagi, saat ini batik bertransformasi menjadi berbagai bentuk produk fesyen, kerajinan dan dekorasi rumah yang telah mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat baik di dalam maupun luar negeri.
 
"Perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapai USD479 miliar menjadi peluang besar bagi industri batik untuk meningkatkan pangsa pasarnya, mengingat batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi," imbuhnya.
 
Dalam upaya pengembangan industri batik nasional agar lebih produktif dan berdaya saing, Kemenperin memiliki berbagai program strategis, antara lain peningkatan kompetensi SDM, kualitas produk, dan standardisasi. Selanjutnya, program restrukturisasi mesin dan peralatan, fasilitasi pemberian mesin dan peralatan, serta promosi dan pameran untuk para perajin.
 
"Untuk meningkatkan akses pasarnya, kami telah memiliki program e-Smart IKM. Kami juga mendorong agar industri batik memanfaatkan berbagai fasilitas pembiayaan seperti KUR dan lembaga pembiayaan perbankan dan non perbankan lainnya untuk memperkuat struktur modalnya," sebut Agus.
 
Lebih lanjut, ia menegaskan, bakal terus mendukung upaya Yayasan Batik Indonesia dalam program pelaksanaan pameran dan perolehan indikasi geografis untuk produk batik nasional. "Kami juga akan lebih giat mengajak masyarakat Indonesia bisa bangga memakai batik," pungkasnya.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif