Peran Tiongkok di dunia mebel global mencapai 31% dari nilai perdagangan mebel dunia sebesar USD440 miliar. Sedangkan Indonesia hanya mampu mendapatkan porsi kurang dari 1% dari nilai perdagangan mebel dunia.
Bahkan, Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara seperti Brazil, Vietnam, dan Polandia yang mampu meraup porsi nilai perdagangan produk mebel dunia masing-masing sebesar 2%.
Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Taufik Gani menyebutkan bahwa porsi perdagangan mebel Indonesia di dunia yang sedikit disebabkan karena masih bocornya ekspor kayu log (kayu gelondongan/mentah) ke negara tetangga. Padahal, pemerintah sendiri sudah membuat aturan tentang pelarangan ekspor kayu log.
"Kayu-kayu kita itu banyak yang bocor ke negara tetangga, sehingga produksi mebel di Indonesia sedikit," ujar Taufik saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (17/9/2014).
Peraturan tersebut adalah Permendag RI Nomor 01/M-DAG/PER/1/2007 tanggal 22 Januari 2007 yang menyebutkan bahwa eksportasi kayu dalam bentuk kayu bulat dari pohon yang dipotong menjadi batang atau batang-batang bebas cabang dan ranting dan panjang tidak dibatasi merupakan komoditi yang dilarang untuk diekspor. Namun, peraturan ini tak berjalan maksimal, bahkan ekspor kayu log Indonesia masih berlanjut hingga sekarang.
Oleh karena itu, Taufik meminta pemerintah untuk memperketat peraturan tentang larangan ekspor kayu log agar porsi nilai perdagangan mebel Indonesia bertambah dan mampu melampaui Brazil. "Itu harus ditutup, kalau sudah ditutup negara tetangga tidak akan punya bahan baku sehingga porsi kita jadi bertambah," tukasnya.
Taufik menambahkan, negara-negara tetangga banyak menerima ekspor kayu log dari wilayah Medan. "Negara tetangga sendiri dapat kayu dari daerah Medan. Makanya, kita stop biar tidak ada lagi ekspor ke mereka," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News