Ilustrasi. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Ilustrasi. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

Ekspor Komoditas Udang Berpotensi Naik di 2015

Gabriela Jessica Restiana Sihite • 02 Desember 2014 15:54
medcom.id, Jakarta: Ekspor komoditas udang Indonesia berpotensi meningkat di 2015. Data CP Prima, jumlah ekspor udang kupas selama 2014 mencapai 250 ribu ton ke pasar dunia.
 
Jumlah ekspor udang ke Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2013 sebesar 50.962 ton atau 16 persen dari kebutuhan pasar dan Agustus 2014 mencapai 63.386 ton atau 18 persen dari kebutuhan pasar. Untuk ekspor ke Jepang, komoditas udang menyumbang 28.017 ton atau 16 persen dari kebutuhan pasar pada Agustus 2013 dan menjadi 36.021 ton atau 19 persen dari kebutuhan pasar pada Agustus 2014.
 
Kendati demikian, komodoti udang Indonesia belum mampu banyak menembus pasar Eropa, yaitu tidak melebih 10,5 ribu ton di Agustus 2014.

"Hanya sekitar 3 persen karena banyak sekali sertifikasi yang dibutuhkan untuk menembus pasar Eropa. Selain itu, testing antibiotika di Eropa sangat ketat jika dibandingkan dengan USA," ucap Head of Export CP Prima Arianto Yohan di Surabaya, Selasa (2/12/2014).
 
Selain itu, Arianto mengatakan adanya Early Mortality Syndrome (EMS) juga menyebabkan kenaikan ekspor komoditi udang Indonesia. Saat ini, kata dia, Thailand yang merupakan negara kompetitor masih mengalami EMS pada udangnya, sehingga suplai menurun.
 
"Pertumbuhan ekspor udang memang meningkat 28 persen pada Agustus 2014 jika dibandingkan dengan Agustus 2013," ujar Arianto.
 
Kendati potensi ekspor meningkat, Arianto mengatakan Indonesia masih terlalu fokus untuk pasar AS dan Jepang, padahal potensi pasar ke negara lain sangat besar.
 
"Kompetitor lain, seperti India, Vietnam, dan Ekuador sekarang sedang berkembang cepat juga. Seharusnya Indonesia juga harus bergerak cepat," tukasnya.
 
Sementara itu, Vice President Surabaya Operational CP Prima Hendri Laiman menyayangkan pemerintah yang kurang mendukung para penambak yang kurang didampingi. "Seringkali, petani diberikan pakan, tetapi tidak berkelanjutan dan tidak ada pendampingan. Padahal, usaha tambak udang mudah turun kalau tidak diurus secara berkelanjutan," ujar Hendri.
 
Selain itu, Hendri mengatakan permasalahan lain yang dialami penambak di Indonesia adalah kurangnya infrastruktur. Pembangungan tambak, kata dia, hanya dilakukan di sepanjang garis pantai.
 
"Thailand dikatakan lebih produktif karena mereka membangun sumur untuk tambak tidak hanya di sepanjang garis pantai," ucapnya.
 
Padahal, menurut Hendri potensi budidaya udang di Indonesia sangat besar. "Saat ini, Jawa Barat adalah daerah yang potensi udangnya paling tergarap, yaitu sebanyak 60-70 persen. Yang paling kecil adalah Kalimantan, baru dikembangkan 1 persen," pungkasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WID)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan