Ilustrasi. MI/Adam Dwi.
Ilustrasi. MI/Adam Dwi.

IKATSI Duga Ada Campur Tangan Importir dalam Penetapan Safeguard TPT

Ekonomi industri tekstil
Atalya Puspa • 15 September 2019 14:59
Jakarta: Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) melihat ada campur tangan importir pedagang untuk mengebiri upaya safeguard yang akan dilakukan pemerintah dalam rangka penyelamatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
 
Ketua Umum IKATSI Suharno Rusdi menyampaikan bahwa pengenaan safeguard akan sangat penting bagi industri TPT. Terutama untuk mengembalikan kesehatannya dalam tiga tahun kedepan setelah menderita selama 10 tahun sehingga tidak dapat berkembang. Namun langkah yang sudah disepakati oleh seluruh stakeholder pertekstilan nasional termasuk pemerintah di dalamnya bukan serta merta menjamin sektor ini sehat kembali.
 
Pasalnya, Rusdi menilai, besaran safeguard yang saat ini diusulkan dari hulu ke hilir dengan kisaran 2,5 persen hingga 30 persen dinilai tidak akan berpengaruh banyak dan membantu industri TPT untuk kembali sehat.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Perbedaan harga antara kain lokal dengan kain impor ditingkat konsumen saat ini rata-rata hanya 15 persen sampai 20 persen, ditingkat pengecer berkisar 30 sampai 40 persen, namun harga asli digudang importir perbedaannya bisa 60 persen karena disana kami melihat ada praktik dumping, under invoice hingga under declare volume” jelas Rusdi dikutip dari Media Indonesia, Minggu, 15 September 2019.
 
IKATSI mengusulkan agar besaran safeguard yang diberlakukan untuk kain nantinya di atas 80 persen, benang 60 persen, dan garmen di atas 100 persen.
 
“Atau bisa juga menggunakan besaran nilai per satuan volume, misalnya untuk kain USD5 per kg, jadi akan lebih fair bagi produk-produk special yang harga per kg nya bisa mencapai USD15-USD20 namun untuk produk yang dilakukan under invoice mereka harus tetap bayar USD5 per kg,” lanjutnya.
 
IKATSI mengingatkan seluruh stakeholder untuk mengawal langkah kebijakan ini agar tidak masuk angina seperti kebijakan-kebijakan sebelumnya.
 
“Ini kelompok importir pedagang masih terus kasak-kusuk agar safeguard yang dikenakan sekecil mungkin sehingga mereka masih bisa terus impor," ungkapnya.
 
“Percuma diberlakukan safeguard kalau tidak bisa membendung impor,” tambahnya.

 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif