Ilustrasi (MI/RAMDANI)
Ilustrasi (MI/RAMDANI)

Peningkatan Kompetensi Industri Atasi Defisit Neraca Perdagangan

Ekonomi pertumbuhan ekonomi neraca perdagangan indonesia defisit transaksi berjalan ekonomi indonesia defisit anggaran
28 Juni 2019 08:30
Jakarta: Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) Hafidz Arfandi mengatakan periode kedua Pemerintahan Jokowi perlu mendorong kompetensi industri lokal. Hal itu dinilai penting agar berdaya saing tinggi untuk dapat mengatasi defisit neraca perdagangan.
 
Apalagi menurut data BPS, ekspor nonmigas yang mencapai angka 74 persen, lebih dari separuhnya merupakan hasil industri pengolahan berteknologi rendah atau hasil pengolahan tahap awal dan barang setengah jadi saja, terutama dari sumber pertanian dan pertambangan.
 
"Komoditas tersebut relatif tidak memiliki nilai tambah yang signifikan. Alhasil kebutuhannya di pasar global relatif konstan dan daya saingnya lebih rendah terutama untuk komoditas yang memiliki substitutif," kata Hafidz Arfandi, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 28 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menyarankan industri tersebut dapat mengolah komoditas-komoditas tersebut agar dikembangkan turunannya di Indonesia supaya dapat berkompetisi di pasar global. Untuk itu, Pemerintahan Jokowi perlu memberikan insentif guna mendorong industri turunan agar dapat memanfaatkan produk turunan dan memperkuat industri dalam negeri.
 
"Khususnya di sektor olahan plastik, karet sintesis, dan kimia yang masih banyak bergantung pada impor," tuturnya.
 
Jokowi di periode kedua, menurut dia, juga harus fokus memastikan pembangunan enam kilang berjalan lancar agar mengurangi impor hasil minyak, seperti BBM dan elpiji. Saat ini, kapasitas kilang minyak hanya satu juta barel per hari (bph). Padahal konsumsinya sudah 1,6 juta bph, dengan kehadiran enam kilang baru ditargetkan bisa mencapai produksi dua juta bph.
 
"Bisnis kilang bisnis yang tidak sederhana karena marjin profitnya relatif tipis, tetapi sangat urgen sehingga harus banyak didukung dengan insentif yang memadai," ujarnya.
 
"Kalau dua pekerjaan rumah ini teratasi, kita bisa membalik keadaan dari defisit menjadi surplus neraca perdagangan. Untuk itu pemerintah harus serius. PR pentingnya kabinet ke depan harus diisi orang-orang profesional dan capable di bidang ekonomi," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif