Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo (tengah). FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo (tengah). FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah

Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Industri Halal Global

Ekonomi bank indonesia ekonomi syariah Industri Halal
Eko Nordiansyah • 07 November 2019 09:37
Surabaya: Bank Indonesia (BI) menilai Indonesia memiliki potensi ekonomi syariah yang sangat menjanjikan, terutama dalam rangka mengembangkan enam sektor unggulan industri halal di Tanah Air, seperti industri makanan halal, pariwisata halal, fesyen Muslim, industri kreatif, pertanian terintegrasi dan juga renewable energy.
 
Apalagi Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, atau sekitar 207 juta orang dari 87,2 persen total penduduk Indonesia. Meski demikian, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo tidak menampik posisi Indonesia sekarang ini masih terhitung sebagai konsumen utama produk makanan, busana, maupun pariwisata halal dunia.
 
"Namun kita cukup optimistis bahwa ke depan Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar sebagai produsen industri halal yang tidak hanya sanggup mencukupi kebutuhan di dalam negeri, namun juga bisa memenuhi pasar global," kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, di Grand City Convex Hall, Surabaya, Rabu, 6 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Optimisme ini semakin menguat, seiring penghargaan yang baru saja diterima oleh Indonesia dari Global Islamic Finance Report (GIFR) 2019, yang memposisikan Indonesia sebagai negara peringkat pertama di dunia dalam mengembangkan ekosistem keuangan syariah. Peringkat Indonesia bahkan naik cukup signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di peringkat keenam.
 
"Peluang meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata dunia tentunya masih terbuka lebar. Kuncinya adalah memastikan strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air tidak lagi terlaksana dalam ruang yang monoton dan hanya terjebak pada rutinitas, tetapi juga mulai fokus kepada inovasi dan pencapaian kualitas yang lebih baik," ungkapnya.
 
Berkaca dari tiga pilar blueprint ekonomi syariah BI, inovasi dan kualitas program yang lebih baik pada pilar pertama terkait pengembangan ekonomi syariah dapat ditempuh melalui pengembangan halal value chain yang ditujukan mendukung penciptaan high quality-local product, yang tidak hanya bisa diandalkan di dalam negeri, namun juga standar internasional.
 
Termasuk dalam pilar pertama tersebut juga memperkuat model bisnis halal value chain yang sudah berjalan selama ini dan membangun skema business matching yang terstandar bagi pelaku usaha syariah yang mewakili UMKM Syariah maupun unit usaha pesantren lainnya kepada level industri yang lebih tinggi diatasnya.
 
Pada pilar kedua, terkait pendalaman pasar keuangan syariah, dapat ditempuh melalui ketersediaan pembiayaan syariah yang bisa mengintegrasikan sektor keuangan komersial maupun sosial syariah, dengan didukung variasi instrumen yang lebih beragam dan mampu menyasar jaringan investor lebih besar baik di dalam maupun luar negeri.
 
Pilar ketiga, terkait riset dan edukasi, kualitas yang lebih baik dapat dipenuhi melalui tersedianya sumber daya insani yang handal, profesional dan berdaya saing, disertai penyediaan materi ajar dan referensi akademik lainnya yang berorientasi sebagai rujukan tidak hanya di dalam negeri, namun juga sebagai standar yang diakui secara internasional.
 
"Pagelaran Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Indonesia kali ini diharapkan juga menjadi ajang yang bisa memperkenalkan inisiatif dan terobosan di bidang ekonomi dan keuangan syariah, dan menghadirkannya sebagai centre of excellence bagi lembaga–lembaga dalam payung Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS)," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif