Upaya Kurangi Ketimpangan Sejak Otonomi Daerah Belum Maksimal
Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati (Medcom.id/Damar Iradat).
Jakarta: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai upaya mengurangi ketimpangan sejak diberlakukannya otonomi daerah belum maksimal. Padahal tujuan akhir dari pembangunan di Indonesia adalah perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia seperti yang tercantum dalam sila ke-5 Pancasila.

Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati mengatakan, otonomi daerah adalah salah satu instrumen untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Namun, jauh panggang dari api, tujuan yang diharapkan dengan penerapan otonomi daerah terkait dengan perbaikan keadilan, tampaknya belum terjadi hingga saat ini.

"Malah sebaliknya, pasca otonomi daerah, ketimpangan (indeks gini) di Indonesia terus meningkat dengan capaian tertinggi pada 2011 dengan nilai indeks gini sebesar 0,41," kata Enny dalam diskusi di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu, 7 November 2018.

Melihat kondisi di atas, Indef melakukan kajian untuk mencari faktor yang
menyebabkan semakin melebarnya ketimpangan (indeks gini) pasca otonomi daerah. Kajian dilakukan dengan menganalisis data yang mencakup 33 provinsi pada periode 2006-2016.

Dari hasil pengolahan data diperoleh hasil antara lain dana transfer ke daerah, pendapatan asli daerah (PAD), tingkat belanja, belanja pendidikan, hingga upah minimum memiliki korelasi positif dengan ketimpangan. Hanya belanja kesehatan yang berkorelasi negatif dengan ketimpangan.

"Artinya, semakin tinggi dana transfer, PAD, belanja, anggaran pendidikan, serta ketentuan upah minimum hanya bisa diakses oleh pekerja formal memiliki peran terahadap angka indeks gini yang meningkat (ketimpangan melebar)," jelas dia.

Sementara itu, belanja kesehatan yang berkorelasi negatif dengan ketimpangan bisa disimpulkan bahwa belanja kesehatan lebih berkualitas dibandingkan dengan  belanja pendidikan. Dalam hal menyediakan pelayanan dasar sebagai modal terwujudnya kesempatan yang sama dalam mengakses kegiatan produktif.

"Pertumbuhan ekonomi tidak inklusif. Hal ini ditandai dengan korelasi positif antara   pertumbuhan dengan ketimpangan. Bisa diartikan, pertumbuhan ekonomi diiringi  dengan ketimpangan yang meningkat," pungkasnya.



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id