Suasana aktivitas pengepakan barang di JNE. (FOTO: MI/Angga Yuniar)
Suasana aktivitas pengepakan barang di JNE. (FOTO: MI/Angga Yuniar)

Mengepak Harapan Menjadi Nyata

Ekonomi logistik jne
Desi Angriani • 14 November 2018 13:41
Jakarta: Menjamurnya bisnis jual beli online dalam lingkup usaha kecil menengah (UKM) tak terlepas dari kemunculan industri e-commerce. Salah satu roda penggerak ekonomi bangsa ini juga tak bisa berjalan mulus tanpa topangan penyedia jasa logistik. Keduanya, ibarat bandara dan pesawat yang mampu membawa bisnis tersebut mengepak lebih tinggi.
 
Bagaimana tidak, banyak pemilik toko online bahkan memulai usahanya tanpa modal sepeser pun. Mereka cukup memanfaatkan media sosial dan startup sebagai wahana promosi. Malah produk-produk yang dihasilkan juga bisa dipasarkan secara gratis tanpa ongkos kirim ke pelosok negeri.
 
Kini, masyarakat di ujung timur Indonesia bisa memiliki fesyen serupa dengan masyarakat di Pulau Jawa. Tak perlu repot memikirkan pengiriman barang, sebab sudah diimbangi dengan lahirnya jasa-jasa ekspedisi baru.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal tersebut bukanlah sebuah karangan. Berangkat dari kisah seorang pemilik toko online, Nur Fadilah, 25. Ia memulai usaha penjualan kerudung, baju gamis dan mukena dengan sisa gaji paruh waktunya sebesar Rp500 ribu. Pondok Hijab Banun menjadi nama yang dipilih untuk menyasar kelompok muslimah di Indonesia lewat media sosial instagram dan facebook.
 
Usaha tersebut ia rintis pada 2016 demi membayar uang kuliahnya. Dila, sapaannya, sempat cuti sementara dari perguruan tinggi demi fokus mengembangkan usaha tersebut. Dia bilang tak memiliki konveksi, koneksi, maupun modal besar. Hanya dengan bakat menciptakan desain pakaian muslimah, ia memberanikan diri menggandeng para penjahit lokal. Dila kemudian memberikan upah bagi setiap potong kain yang diproduksi oleh penjahit-penjahit itu.
 
Semula ia hanya meraup hasil penjualan Rp500 ribu alias tidak mendapatkan keuntungan. Dila kemudian mencoba menjual kerudung dan mukenanya dengan menggunakan sistem pre order (PO). Maksudnya, pemesanan hanya akan diproses ketika konsumen sudah menyetorkan uangnya. Dengan begitu, Dila tak perlu merogoh kocek demi memproduksi karya-karyanya.
 
Untuk penggunaan jasa kurir, Dila merasa begitu terbantu dengan layanan PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir atau lebih dikenal dengan JNE. Selain memberikan kenyamanan pada konsumen, JNE juga memiliki agen jaringan hingga 6.800 di seluruh Indonesia. Hal ini memudahkan Dila untuk mendistribusikan pesanan barang ke berbagai pelosok negeri. Kini, ia sudah mendulang omzet hingga belasan juta dengan produk mukena dan kerudung yang bisa dinikmati hingga ke Papua.

"Sistem pre order jadi saya tidak perlu mengeluarkan modal. Pengiriman lewat JNE lebih gampang dan nyaman. Saya memberikan pilihan ke konsumen lewat empat jasa kurir. Mayoritas memilih JNE,” kata Dila kepada Medcom.id pada Selasa, 13 November 2018.


Serupa dengan Dila, pemilik toko online NA Design juga memanfaatkan perkembangan bisnis jual beli online lewat media sosial dan startup. Nur Azizah, 25, memulai usaha pakaian wanita dengan modal Rp500 ribu dari koceknya sendiri. Karyawan swasta ini semula tak berniat membuka usaha toko online. Namun, bakat desain yang dimilikinya membuat Nur mencoba peruntungan dengan memanfaatkan e-commerce.
 
Ia juga menggandeng para penjahit di sekitar rumahnya agar hasil karya tersebut menjadi produk yang pantas dipajang di laman instagram dan shopee. Semula Nur hanya menjual 20 potong kerudung sampai kemudian mendapat pesanan hingga 100 potong. Jika musim Lebaran tiba, Nur mengaku mendapat omzet yang lebih besar dari hari-hari biasa.
 
Hasil jerih payah itu menjadi semakin terasa setelah pakaian yang didesain Nur dapat dinikmati oleh masyarakat di berbagai daerah. Kehadiran jasa kurir, katanya sangat membantu dalam proses distribusi pesanan konsumen untuk daerah-daerah pelosok. Hingga kini, Nur masih mempercayakan seluruh pengiriman paket barangnya kepada agen jaringan JNE dengan alasan lebih nyaman dan gampang ditemui.
 
Mengepak Harapan Menjadi Nyata
Pemilik toko online NA Desain, Nur Azizah, merasa terbantu dengan adanya jasa ekspedisi. (FOTO: istimewa)
 
"Kalau zaman sekarang apa-apa orang nyari baju ke Instagram bukan toko jadi lebih manfaatin Instagram. Banyak juga yang inginnya harga murah tanpa ongkos kirim, ya saya coba masukin ke Shopee. Jadi orang yang tadinya mikir harga ongkirnya mahal ya enggak jadi beli karena ongkirnya mahal," ujar Nur saat dihubungi Medcom.id.
 
Berbeda dengan kisah pemilik TikBatik Tety Kurniawati. Pemilik toko konvensional di Thamrin City ini memulai bisnisnya dari kecintaan terhadap batik. Ia bersama dua rekannya membuat sebuah inovasi berupa batik kombinasi bagi anak-anak muda. Kala itu, 2013 batik kurang digandrungi lantaran desainnya yang terlalu tua dan kaku.
 
Jatuh bangun Tety dimulai ketika harus mengelola usaha tersebut seorang diri. Sebagai warga Jakarta, ia menghadapi persaingan ketat lantaran para pemilik toko batik konvensional di Thamrin City berasal dari daerah-daerah di Jawa dan Sumatera. Ia merasa dikucilkan apalagi memiliki model dan desain batik yang berbeda dari kebanyakan penjual.
 
Mengepak Harapan Menjadi Nyata
Pemilik TikBatik Tety Kurniawati (kanan) memanfaatkan media sosial dan jasa ekspedisi untuk mengembangkan usahanya. (Foto: istimewa)
 
Hal tersebut justru mencuri perhatian pembeli hingga ia mendapat sejumlah proyek dari berbagai perusahaan. Tety pun merambah bisnis jual beli online pada 2014 dan 2015 saat masyarakat tengah booming menggunakan media sosial. Ia merasa terbantu dengan jasa ekspedisi bermerek JNE yang saat itu satu-satunya berada di Thamrin City. Ia mengaku tak perlu repot mengirimkan pesanan batik konsumen lantaran sudah bekerja sama dengan JNE.
 
Kini, Tety fokus menerima berbagai proyek pesanan batik hingga mendapat omzet ratusan juta. Namun, ia tetap menerima pesanan secara online lantaran banyak konsumen yang melirik instagram dan website miliknya. Tanpa sentuhan e-commerce dan jasa ekspedisi, Tety tak menyangka desain batiknya bisa terbang hingga ke Den Haag Belanda dan acara-acara internasional lainnya.
 
"Ekspor pernah, karena waktu itu ada yang visit ke kita. Mereka milih kita karena batik kombinasi kali ya. Itu untuk KBRI di Den Haag Belanda. Jasa pengiriman kita pakai JNE karena didukung JNE. Dia satu-satunya yang bisa masuk ke Thamrin City waktu itu. Kalau door to door kayak gini memang lebih enak pakai JNE," ujar Tety kepada Medcom.id pada Selasa, 13 November 2018.
 
Persaingan Ketat, Jasa Kurir Dalam Negeri Butuh Standarisasi
 
Indonesia menghadapi dua masalah mendasar dalam perkembangan e-commerce, yaitu sistem pembayaran dan pengiriman barang. Peluang inilah yang harus dimanfaatkan oleh penyedia jasa ekspedisi untuk menghadapi persaingan ketat dengan para pemain asing. Apalagi perusahaan penyedia aplikasi seperti Go-Send dan startup lainnya juga memiliki perusahaan kurir sendiri.
 
Bahkan banyak pelanggan setia jasa kurir dalam negeri mulai beralih ke jasa logistik milik asing lantaran memberikan harga ongkos kirim yang lebih murah. Hal itu dikarenakan mereka memiliki standarisasi yang mampu menekan biaya distribusi. Sementara pemain dalam negeri berjalan perseorangan tanpa adanya standarisasi sehingga biaya logistik yang dikeluarkan menjadi lebih mahal.
 
Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengatakan para penyedia jasa logistik dalam negeri perlu berkolaborasi dengan mengacu pada satu standarisasi. Standar itu mengatur proses logistik, alat bantu logistik hingga informasi logistik. Dengan kata lain, ruang-ruang yang tidak bisa dilewati oleh PT Pos Indonesia dapat memanfaatkan penyedia jasa kurir lainnya seperti PT TIKI Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).
 
Hal ini dipercaya dapat menurunkan ongkos logistik yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah. Jika semua mengacu pada satu standarisasi maka para penyedia jasa ekspedisi dalam negeri dapat merajai pasar Tanah Air.
 
"Artinya bagaimana para pemain logistik dalam negeri bisa berkolaborasi untuk menurunkan ongkos logistik. Itu enggak bisa kuat di semua lini, ada yang kuat di daerah ini, di-trackingini. Ya mereka bisa saling bekerja sama, cuma karena enggak bisa kerja sama karena enggak ada standar akhirnya kalah saing sama pemain luar," kata Zaldy kepada Medcom.id.
 
Menurutnya kolaborasi dari berbagai jasa kurir juga membantu pemain di sektor UKM untuk mendorong pemasaran produk hingga ke daerah-daerah terpencil. Ia berharap pemerintah segera merealisasikan usulan tersebut agar penyedia jasa logistik dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Paling tidak, pembentukan standarisasi distribusi logistik domestik membutuhkan waktu 6-12 bulan.
 
"Kalau UKM malah dia butuh, mereka lebih butuh kalau dikonsolidasi sehingga lebih gampang juga menggabungkan volume dari sektor UMKM ini," imbuhnya.
 
Sebagai salah satu perusahaan ekspedisi lama, JNE telah berupaya mendorong pelaku UMKM agar melek digital. Lewat berbagai program, JNE bahkan mendatangi sejumlah pelaku UMKM serta mempromosikan produk-produk mereka.
 


 
Presiden Direktur JNE M Feriadi mengatakan dengan adanya bantuan tersebut, kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dapat digenjot. Saat ini, sokongan UMKM terhadap PDB baru mencapai 60 persen serta penyerapan tenaga kerja sebesar 116,73 juta orang atau 97,02 persen dari total angkatan kerja yang bekerja.
 
"Kami kerap membantu para UKM agar untuk bisa bermain di e-commerce. Potensinya sangat besar di sana. Maka dari itu, kami juga memberikan knowledge mengenai dunia digital ke para pelaku UKM," imbuh Feriadi.
 
Menurutnya, sektor logistik dan distribusi akan terus berkembang selama orang masih melakukan konsumsi. Potensi ini akan terus meningkat seiring perkembangan industri e-commerce. Terbukti dari 800 juta jumlah paket yang beredar di 2017, mayoritas berasal dari bisnis e-commerce.
 
Berdasarkan prediksi Menkominfo, Indonesia bakal melampui sebesar USD130 miliar transaksi melalui e-commerce. Untuk mengantisipasinya, JNE telah membangun kompleks mega hub di bandara menggunakan Automatic Cross Handling.
 
JNE memperkirakan tidak mungkin lagi manusia yang akan melakukan karena memakan waktu lama. Untuk menghemat proses sortir tersebut, JNE membangun Automatic Cross Border Self Sortir Machine di Bandara Mas (Soetta). Di mana proses sortir menggunakan mesin dan lebih menghemat sekitar tiga jam dibandingkan tenaga manusia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif