Illustrasi. MI/Angga Yuniar.
Illustrasi. MI/Angga Yuniar.

YLKI Duga INACA Terlibat dalam Praktik Kartel

Ekonomi kartel
Ilham wibowo • 22 Januari 2019 15:43
Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendorong Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkap tuntas dugaan praktik kartel dalam penentuan tarif tiket pesawat terbang. Pasalnya, pengendalian harga tak boleh dilakukan oleh sekelompok perusahaan.
 
Wakil Ketua Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo menyakini KPPU telah melihat aktivitas maskapai nasional yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier Association (INACA) dalam menentukan tarif tiket tersebut. INACA pun dianggap telah terang-terangan menyepakati perubahan pelayanan dalam pernyataan konferensi pers di Jakarta, Minggu, 13 Januari 2019.
 
"Adanya pressconference penurunan tarif yang dihadiri oleh INACA bagi KPPU sudah menjadi bukti pendahuluan ada indikasi kartel. Jadi keberadaan INACA di dalam pressconference itu indirect evidence bahwa memang ada kartel," ujar Sudaryatmo kepada Medcom.id, Selasa 22, Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sudaryatmo memandang INACA tak hanya sekedar asosiasi dalam mengembangkan bisnis penerbangan Tanah Air. Mestinya, kata dia, intervensi terhadap penentuan tarif tidak dilakukan untuk menjaga persaingan usaha yang sehat.
 
"Serentak (dalam perubahan tarif tiket) itu yang menjadikan kecurigaan. Namanya persekongkolan kan tidak mungkin ada bukti tertulis, tapi dengan adanya INACA di dalam pressconference ini sebenernya bisa jadi petunjuk bahwa ada dugaan kartel," ungkapnya.
 
Lebih lanjut, Sudaryatmo menuturkan struktur penentu tarif maskapai penerbangan mestinya tetap dihasilkan dari perhitungan biaya pokok dan margin. Persaingan maskapai, kata dia, seharusnya berbeda lantaran menonjolkan batas kemampuan pelayanan seperti misalnya dalam hal efisiensi.
 
"Ini indikasi kartel kuat di situ, mengapa naik bareng dan turun bareng, mestinya efisiensi masing-masing airlines itu beda sehingga airlines itu bisa buat tarif berbeda," bebernya.
 
Sedikitnya pemain besar di maskapai penerbangan nasional juga dinilai menjadi masalah lain yang saling berkaitan. Menurut Sudaryatmo, saat ini hanya terdapat dua perusahaan yakni Lion Air Group dan Garuda Indonesia yang menguasai sebagai besar rute penerbangan domestik.
 
"Sebenernya kebijakan tarif itu kelihatan operator banyak tapi tarif itu ditentukan oleh duopoli. Tidak ada kompetisi yang sehat di dalam penerbangan karena struktur pasarnya duopoli," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif