The Loggia - Facade West. Dok;IST.
The Loggia - Facade West. Dok;IST.

Pengembang Lokal Gandeng Jepang Luncurkan The Loggia

Ekonomi indonesia-jepang
Angga Bratadharma • 15 Maret 2019 05:20
Jakarta: FARPOINT yang merupakan pengembang real estate dari Indonesia bermitra dengan Tokyo Tatemono, pengembang real estate dari Jepang meluncurkan konsep transformable living di Jakarta Selatan, The Loggia, lewat desain multifungsi. Dilengkapi furnitur dan ruang penyimpanan yang transformable, apartemen ini memiliki 20 tingkat.
 
Lewat The Loggia, Head of Residential SBU Farpoint Mulyadi Janto mengatakan, pihaknya menghadirkan konsep hunian vertikal baru demi menjawab tantangan, sekaligus memaksimalkan kenyamanan bagi masyarakat yang ingin tinggal di tengah kota. Ia mengklaim inovasi ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
 
"Apalagi di saat mereka dapat tetap menyimpan benda-benda sentimental miliknya, namun tetap menciptakan ruang lapang di apartemennya," ujar Mulyadi Janto, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis, 14 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebuah penelitian dari real estate marketplace Zillow.com mengungkapkan ada prioritas yang meningkat dari pembeli rumah usia muda untuk mencari area rumah yang lebih lapang. Namun harus diakui, lanjut Mullyadi, sangat sulit menemukan rumah dengan luas yang sempurna di Jakarta, apalagi dengan harga yang terjangkau.
 
"Lewat konsep desain yang unik ini, kami melihat konsep rumah mikro ala Jepang akan sangat populer, berkat ide briliannya untuk membuat ruang sempit tampak lebih luas," tambah Mulyadi.
 
Co-Principal Architect Atelier Bow-Wow dan Profesor Tokyo Institute of Technology Dr Eng Yoshiharu Tsukamoto menambahkan Reversibility into Emptiness tidak hanya terwujud dari rumah yang rapi, tetapi bagaimana setiap elemen yang ada bisa memberikan nilai untuk ruangan tersebut.
 
Misalnya, lanjutnya, bagaimana sinar matahari memancarkan pantulan di lantai ubin ke langit-langit, bias cahaya melalui dinding rotan, atau angin yang bertiup melalui jendela ke koridor. Gerakan dan transformasi furnitur ini merupakan momen nyata yang bisa dieksplorasi, salah satunya lewat meja makan yang dapat dilipat di dinding.
 
"Hasilnya, ruang makan pun bisa berubah menjadi ruang komunal untuk mengumpulkan lebih dari 10 orang. Suasana multi-sensory seperti ini yang penting untuk menyegarkan pikiran tiap penghuni," ujar Tsukamoto.
 
Mewujudkan hunian yang lebih lapang atau the art of spacious living, lewat konsep “Reversibility into Emptiness,” FARPOINT berkolaborasi dengan firma desain Jepang, Atelier Bow-Wow (ABW) untuk wujudkan desain ruang yang inovatif. Sebagai salah satu maestro desain mikroarsitektur dunia, ABW berfokus pada eksplorasi ruang.
 
Konsep transformable pada apartemen ini terinspirasi dari konsep “ikigai,” yang menerjemahkan rahasia hidup panjang dan bahagia masyarakat Jepang, lewat prinsip minimalis dan decluttering. Dengan jumlah unit yang terbatas, sekitar 498 untuk dua tower, di The Loggia penghuni dapat menemukan kelapangan di ruang terbatas kota Jakarta yang sangat padat.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif