Hidup Berkah Lewat Atur Keuangan Secara Syariah
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta: Certified Financial Planner, Financial Planning Standards Board Indonesia, mengungkapkan perencanaan keuangan adalah suatu proses untuk mencapai tujuan hidup seseorang melalui pengelolaan keuangan secara terencana. Lalu, apakah ada perbedaan dengan perencanaan keuangan syariah dibandingkan dengan perencanaan keuangan konvensional.

Mengutip laman resmi sikapiuangmu milik OJK, Sabtu, 9 Juni 2018, adapun yang dimaksud dengan perencanaan keuangan syariah adalah ketika proses yang dilakukan dalam mencapai tujuan keuangan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah dan berorientasi tidak hanya pada dunia tetapi juga akhirat.

Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan perencanaan keuangan dengan prinsip-prinsip syariah. Beberapa hal tersebut menjadi penting diperhatikan dalam rangka mencapai tujuan finansial seseorang.

1. Mengalokasikan dana untuk zakat, infak, dan sedekah
Zakat merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib ditunaikan dan memiliki fungsi sebagai penyucian jiwa dan harta. Begitu pula halnya dengan infak dan sedekah, namun sifatnya sunnah. Fungsi lain dari zakat, infak, dan sedekah tentunya adalah untuk membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang di sekitar kita.



Harta yang dimiliki tidak akan memberikan keberkahan dan sempurna sebelum memberikan sebagiannya kepada orang-orang yang membutuhkan sebagaimana dikutip dari Alquran surah Ali Imran: 92 yang berbunyi:

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya".

2. Meminimalkan utang
Secara syar'i utang piutang boleh dilakukan oleh seorang muslim, baik antara muslim dengan muslim maupun dengan non-muslim. Alquran surah Al-Baqarah ayat 282 memberikan pedoman tentang bagaimana utang-piutang harus dicatat dan disaksikan oleh orang lain agar tidak lupa dan pada akhirnya tidak merugikan pihak manapun.

Namun demikian, Islam menganjurkan untuk tidak berutang kecuali dalam keadaan darurat atau mendesak. Bagi seseorang yang memiliki utang maka melunasinya harus menjadi prioritas utama.

3. Menyusun tujuan keuangan yang sesuai dengan ajaran Islam
Sebagai contoh, menunaikan ibadah haji adalah suatu kewajiban bagi seorang muslim yang memiliki kemampuan secara finansial maka prioritas untuk menunaikan ibadah haji harus diutamakan dari keinginan lain yang bersifat duniawi seperti beli mobil, jalan-jalan ke luar negeri, dan lainnya.


Sumber: OJK

4. Menggunakan produk-produk keuangan dengan prinsip syariah
Dalam mencapai tujuan keuangan, tentunya seseorang sudah terbiasa menggunakan berbagai produk-produk keuangan seperti tabungan, deposito, asuransi, hingga reksa dana. Nah, sudah saatnya mulai memilih untuk menggunakan produk-produk keuangan dengan prinsip syariah seperti tabungan syariah, deposito syariah, asuransi syariah, reksa dana syariah, dan lain-lain.

5. Biasakan pola hidup sederhana dan tidak konsumtif
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah sosok yang sangat sederhana. Walaupun secara materi beliau berkecukupan, namun harta tersebut digunakan untuk menyebarkan dakwah Islam dan membantu orang-orang yang membutuhkan.

Sudah selayaknya sebagai umat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam senantiasa mencontoh perilaku beliau. Kesederhanaan adalah awal kebahagiaan, karena hidup sederhana bukan selalu berarti kekurangan melainkan sebuah cara hidup yang bertujuan untuk menjauhkan diri dari sikap tamak dan serakah.

Mulai perilaku hidup hemat dan sederhana, atur pemasukan dan pengeluaran dengan rapi, dan biasakan hanya membeli hal-hal yang dibutuhkan dan tidak bermewah-mewah. Terlebih apabila kita memiliki materi berlebih, kita harus mendistribusikan kekayaan tersebut kepada orang lain yang membutuhkan, terutama kepada orang-orang terdekat.

6. Menyiapkan dana darurat
Sama halnya seperti penyusunan rencana keuangan umum, dana darurat tetap merupakan salah satu hal yang wajib dipenuhi. Selalu ingat untuk menyisihkan sebagian pemasukan untuk dana darurat. Pilih lembaga keuangan syariah untuk menempatkan dana darurat ini seperti misalnya tabungan syariah atau melalui bentuk proteksi dan perlindungan lain seperti asuransi syariah.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id