Agrowisata Belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. (FOTO: MTVN/Amaluddin)
Agrowisata Belimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. (FOTO: MTVN/Amaluddin)

Cerita Desa Miskin di Bojonegoro Memiliki Petani Jutawan

Amaluddin • 25 September 2016 09:10
medcom.id, Bojonegoro: Tak banyak orang mengenal Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tapi tahukah Anda, agrowisata belimbing menjadikan daerah miskin di Bojonegoro sebagai wilayah dengan petani jutawan.
 
Beberapa tahun terakhir, Desa Nringinrejo yang berlokasi di Kecamatan Kalitidu menjadi salah satu tujuan wisata di Bojonegoro. Alasannya, desa tersebut menjadi kawasan agrowisata belimbing. Kondisi itu berbanding terbalik dengan belasan tahun lalu. Desa Nringinrejo berjarak 15 kilometer (km) dari pusat kota Bojonegoro. Waktu tempuh kurang lebih satu jam untuk menjangkau lokasi tersebut.
 
Desa bersebelahan dengan Sungai Bengawan Solo. Desanya terpencil dan miskin. Rata-rata rumah penduduk terbuat dari kayu dan papan. Jalan menuju desa itu pun hanya berbatuan. Bertahun-tahun berlalu, warganya menjadi jutawan. Mereka dapat membangun rumah yang lebih permanen. Jalan menuju desa jadi lebih mulus. Apa sebab? Desa itu memiliki lahan yang menjadi agrowisata. Yaitu belimbing yang ditahan di lahan seluas 20 hektare (ha). Sebanyak 10 ribu pohon belimbing tertanam berjejer rapi di lahan tersebut.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Agro Jaya Priyo Sulistiyo mengatakan warga menanam padi di era 1980-an. Namun lahan tersebut kerap gagal panen karena banjir. Tak mau putus asa, beberapa warga mulai mencari tanaman alternatif. Mereka menemukan tanaman belimbing yang dapat menahan banjir. Siapa sangka tanaman alternatif itu malah memiliki daya jual. Hasil panen pun mampu mengangkat perekonomian warga.
 
Setiap musim panen, Desa Nringinrejo menjelma jadi tujuan wisata. Ratusan wisatawan datang. Bukan hanya dari Bojonegoro, wisatawan datang dari luar kota bahkan luar negeri. "Kalau hari-hari biasa, ada sekitar 200 pengunjung datang," kata Priyo saat didatangi Metrotvnews.com.
 
Cerita Desa Miskin di Bojonegoro Memiliki Petani Jutawan
 
Lain halnya saat musim liburan. Jumlah pengunjung bisa melebihi 1.000 orang. Sepanjang 2015, jumlah pengunjung mencapai 6.000 orang per hari. "Pada 2016, mulai Januari hingga awal September, jumlahnya meningkat menjadi 94 ribu pengunjung," lanjut Priyo.
 
Hingga akhirnya, pada 2014, Pemerintah Provinsi Jatim meresmikan Desa Ngringinrejo sebagai daerah Agrowisata Belimbing. Daerah tersebut dijadikan lokasi kebun belimbing menjadi obyek wisata lokal. Belimbing dari Desa Ngringinrejo yaitu bangkok merah dengan ciri buahnya besar, dagingnya tebal, dan berwarna kuning kemerahan saat matang. "Rasanya manis," ungkap Priyo.
 
Ada pula varietas belimbing Blitar. Cirinya besar, daging buahnya lebih tipis, dan warna kuning kemerahan saat matang. Rasanya lebih asam. Sementara varietas lain, yaitu belimbing Demak. Dagingnya lebih tebal tapi rasanya asam. Biasanya, kata Priyo, masa panen belimbing di Desa Ngringinrejo tiga bulan sekali. Harganya berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000 per kg.
 
Warga memasarkan hasil produksi ke berbagai wilayah di Jatim seperti Lamongan dan Tuban. Pemasaran juga dilakukan ke sejumlah wilayah di Jateng bahkan ke luar negeri. "Sebab, buah belimbing ini bisa diproduksi menjadi olahan sirup, sari buah, dan lainnya," katanya.
 
Belimbing menjadi ikon wisata di Bojonegoro. Tak heran, 104 warga di desa tersebut berstatus sebagai petani belimbing. Setiap tahun, para petani mampu menghasilkan lebih 9.000 Kg belimbing. "Omzet petani berbeda-beda. Secara keseluruhan, omzet harian pada 2015 menjadi Rp74 juta," kata Kepala Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Mohammad Syafi'i.
 
Cerita Desa Miskin di Bojonegoro Memiliki Petani Jutawan
 
Dengan penghasilan itu, beberapa petani mampu naik haji. Anak-anak mereka pun mendapat pendidikan lebih tinggi. Wajar saja, karena pendapatan warga setempat dalam sehari mencapai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari. Kini, kehidupan warga setempat sejahtera. Pemukiman warga pun berubah. Dahulu, rumah warga setempat terbuat dari kayu. Kini rumah-rumah warga setempat tampak mewah.
 
Beton berdiri tegak dihiasi keramik seakan menghiasi bangunan di Desa Ngringinrejo. Jalan menuju ke pemukiman juga mulai mulus dengan paving. Lampu penerang jalan tampak berdiri siap menerangi pemukiman warga setempat. Suntoro (40), salah satu petani belimbing mengatakan, dahulu dirinya bingung untuk menafkahi keluarganya. Penghasilan ia bertani di sawah tidak cukup. Sebab, padi yang ia tanam dilahan sawah seringkali gagal panen saat musim hujan, karena terendam banjir.
 
"Kalau pun panen, hasil padi tidak seberapa. Bahkan saya merugi, karena tidak sebanding dengan waktu, tenaga dan biaya pupuk perawatan padi," katanya.
 
Lantaran itu, Suntoro pun mulai beralih dengan menanam pohon belimbing. Ia mengawalinya pada 1990. Sebanyak 30 pohon ia tanam di lahan miliknya, lahan warisan dari keduaorang tuanya. Pada 1995, atau lima tahun kemudian, pohon belimbing yang ia tanam mulai berbuah hingga akhirnya panen. "Saat itu omzet saya sekitar Rp9 juta per tahun, total hasil dari dua kali panen raya dalam setahun," urai Suntoro.
 
Dari penghasilan itu, Suntoro mengaku nafkah untuk keluargnya terpenuhi. Bahkan, Suntoro tidak kesulitan untuk membiayai sekolah dua orang anaknya. "Alhamdulillah, selain untuk kebutuhan rumah tangga, kebutuhan sekolah anak-anak sudah saya siapkan," katanya.
 
Kata Suntoro, hasil panen belimbing mulai dirasakannya. Ia pun mulai menekuninya, dengan merawat pohon belimbingnya dengan baik. Selain perawatan cukup mudah, menurut Suntoro, biaya yang keluarkan untuk perawatan pohon belimbing cukup murah.
 
"Saya hanya mengeluarkan uang Rp1 juta, biaya perawatan untuk 30 pohon untuk sekali panen. Jadi kalau setahun dua kali panen, total Rp2 juta untuk biaya perawatan," kata bapak dua anak ini.
 
Menurut dia, untuk merawat pohon belimbing tidak susah. Masing-masing pohon harus diberi pupuk dengan kualitas super. Misalnya, pupuk organik, NPK, dan pupuk mutiara.
 
Dengan menggunakan salah satu pupuk tersebut, kata dia, buah belimbing yang dihasilkannya sangat bagus dan rasanya sangat manis. Meski dipetik langsung dari pohonnya. "Jadi, biaya perawatan Rp1 juta itu hanya untuk membeli pupuk. Setelah itu, kita hanya menyiram pohon dan menunggu sampai musim panen tiba," jelasnya.
 
Suntoro mengaku mulai merasakan hasil dari menjual buah belimbing. Jerih payah yang dilakoninya tidak sia-sia setelah bertahun-tahun menekuni usahanya. Bahkan, pengasilan Suntoro bertambah drastis saat musim liburan tiba, seperti liburan Lebaran, tahun baru.
 
Dia mematok harga buah belimbing sebesar Rp10.000 hingga Rp13.000 per kg, tergantung besar dan kecilnya buah belimbing tersebut. Harga yang dipatok Suntoro sama dengan harga belimbing yang dijual petani di kawasan Agrowisata Belimbing.
 
Omzet yang ia proleh mencapai puluhan juta per bulan, dan sekitar jutaan rupiah per hari pasti ia proleh. Misalnya, omzet yang ia peroleh saat musim Lebaran bisa mencapai Rp3 juta per hari. "Tapi kalau liburan tahun baru, bisa tembus Rp6 juta per hari. Kalau hari-hari biasa omzetnya sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Alhamdulillah mas," katanya.
 
Lain halnya dengan Ninik (42), petani belimbing lainnya. Dia memiliki 45 pohon belimbing. Ia menekuni usahanya sekitar 30 tahun, lebih lama dibanding Suntoro. Namun, rejeki yang diproleh masing-masing petani berbeda-beda.
 
"Kalau omzet per hari sekitar Rp1 juta, tapi kalau pas ramai seperti saat libur Lebaran dan tahun baru bisa Rp3 juta per hari," katanya.
 
Cerita Desa Miskin di Bojonegoro Memiliki Petani Jutawan
 
Meski demikian, ia pantang menyerah dan bersyukur atas rejeki yang diprolehnya. Dengan peluh menetes di dahinya, ibu tiga anak ini terus menawarkan blimbing kepada setiap pengunjung yang lewat di depan lapaknya. Sesekali, Ninik merapikan puluhan buah blimbingnya. Ada blimbing yang digantung, ada juga yang dipajang di atas lapak dagangannya. Sebuah timbangan untuk mengukur berat blimbing tergeletak di meja.
 
"Ayo mba/mas, silakan dicicipi belimbingnya. Saya jamin manis dan besar-besar. Satu kilo cuma Rp12 ribu. Silakan dicicipin dulu, gratis," ujarnya, sembari menawarkan kepada pengunjung yang datang.
 
Di Agrowisata Belimbing ini, pengunjung diizinkan memetik buah belimbing langsung dari pohonnya. Pengunjung bisa mencicipinya secara gratis. Tiket di loket masuk dikenakan Rp2.000 per pengunjung. Lokasi Agrowisata unggulan Bojonegoro ini berada sekitar 15 km dari arah barat pusat kota Bojonegoro, tepanya di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.
 
Selain Agrowisata Belimbing ini, Bojonegoro masih banyak destinasi wisata lannya yang bisa dinikmati wisatwawan. Diantaranya Waduk Pacal, Negeri Atas Angin, Teksas Wonocolo, Kampung Gerabah, Air Terjun Kedung Maor, Water Fun, Gunung Batu Gajah, Waterpark, Kayangan Api dan lainnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AHL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan