Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan. (FOTO: Medcom.id/Desi)
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan. (FOTO: Medcom.id/Desi)

Madagaskar Bebaskan Safeguard Produk Mi Instan Indonesia

Nia Deviyana • 19 Juli 2019 17:34
Jakarta: Pemerintah Madagaskar secara resmi menghentikan penyelidikan tindakan pengamanan perdagangan (safeguard), untuk produk pasta dan mi instan impor, termasuk yang berasal dari Indonesia.
 
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan menjelaskan pengumuman tersebut disampaikan melalui situs web Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO).
 
"Sejak September 2018, produk pasta dan mi instan Indonesia menjadi objek penyelidikan pengamanan perdagangan yang dilakukan Otoritas Madagaskar. Pihak otoritas menilai lonjakan importasi produk tersebut dari seluruh dunia menyebabkan kerugian serius bagi industri dalam negeri Madagaskar yang memproduksi produk serupa," ungkap Oke melalui keterangan resminya, Jumat, 19 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akibatnya pada 9 Januari 2019, Otoritas Madagaskar mengumumkan penerapan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS) sebesar 30 persen atas importasi produk pasta dan mi instan. Namun, penerapan BMTPS yang dimaksudkan agar industri domestik Madagaskar berkesempatan untuk menyesuaikan diri dengan laju impor, baru diberlakukan pada Juni 2019.
 
Adapun penerapan tindakan safeguard ada dalam tiga lapis, yaitu kuota ekspor untuk Indonesia ditentukan sebesar 1.560 ton per tahun, danya ketentuan impor tarif di luar batas kuota (out-of-quota import tariff), yakni pengenaan tarif sebesar 44 persen pada semester pertama dan akan mengalami liberalisasi setiap tahun hingga mencapai 28 persen pada 2023 jika importasi melebihi batas kuota yang ditetapkan, dan pengenaan minimum harga free on board (FOB) sebesar USD1.200 per metrik ton untuk importasi mi instan dan USD450 per metrik ton untuk importasi spageti dan makaroni.
 
Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati menjelaskan penyelidikan safeguard untuk produk pasta dan mi instan merupakan satu dari tiga penyelidikan pertama yang diinisiasi Madagaskar. Pada akhirnya, otoritas Madagaskar memutuskan menghentikan kasus ini tanpa pengenaan tindakan apapun.
 
"Dengan demikian, diharapkan eksportir produk pasta dan mi instan Indonesia mampu menyasar peluang pasar yang kembali terbuka ke Madagaskar dan negara sekitarnya, serta negara yang tergabung dalam Common Market for Eastern and Southern Africa (COMESA) dan Southern African Development Community (SADC)," jelasnya.
 
Pasta dan mi instan Indonesia mendapat permintaan yang tinggi konsumen Madagaskar dan telah dijual selama sekitar 20 tahun. Pradnyawati menuturkan potensi peningkatan ekspor mi instan ke Madagaskar masih sangat besar.
 
Data statistik BPS menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke Madagaskar untuk produk pasta dan mi instan tercatat sebesar USD3,2 juta pada 2018. Nilai tersebut meningkat 14,76 persen dibandingkan 2017 yang mencapai USD2,8 juta.
 
Sementara, kinerja ekspor pada 2019 cukup terpengaruh akibat penyelidikan safeguard ini. Selama periode Januari-Mei 2019, Indonesia membukukan nilai ekspor sebesar USD1,2 juta atau turun 16,92 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yaitu USD1,4 juta.
 
"Pasta dan mi instan merupakan salah satu produk ekspor unggulan Indonesia ke Madagaskar dan sangat didorong ekspornya. Untuk itu, berbagai jenis hambatan perdagangan termasuk safeguard yang diberlakukan negara-negara tujuan ekspor, termasuk Madagaskar, akan kami upayakan penanganannya guna mendukung peningkatan ekspor," tegas Pradnyawati.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif