NEWSTICKER
Ilustrasi peternakan babi. Foto: AFP.
Ilustrasi peternakan babi. Foto: AFP.

Kementan Pastikan Penanganan Demam Babi Afrika Terintegrasi

Ekonomi kementerian pertanian Demam Babi Afrika
Ilham wibowo • 30 Desember 2019 11:25
Jakarta: Kementerian Pertanian memastikan bahwa pengendalian demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) di Sumatera Utara dilakukan secara terintegrasi. Tim gabungan antar instansi di daerah telah dilibatkan agar dalam penanganan kasus ini.
 
"Salah satu permasalahan yang ditangani bersama TGC dengan kepolisian adalah penanganan bangkai babi yang dibuang ke sungai. Hal ini terjadi pada awal-awal kasus kematian babi di Sumut Oktober 2019," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) I Ketut Diarmita melalui keterangan tertulisnya, Senin, 30 Desember 2019.
 
Ketut menyampaikan bahwa Posko Darurat dan Tim Gerak Cepat (TGC) telah bergerak dalam penanganan kasus ASF ini dibantu Balai Veteriner Medan, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi,Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Kesehatan. Pihak Kepolisian juga ikut membantu dalam melakukan sosialisasi.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Posko darurat telah dibentuk disemua tingkatan mulai dari Pusat, provinsi, kabupaten/kota, bahkan tingkat kecamatan. Saat ini jumlah posko di tingkat kecamatan sudah berjumlah 102 posko, hampir sesuai dengan jumlah kecamatan tertular," papar Ketut.
 
Kementan sebelumnya telah mengumumkan adanya kejadian penyakit ASF di Sumut melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 820/Kpts/PK.32/M/12/2019 tentang Pernyataan Wabah Penyakit Demam Babi Afrika pada beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada 12 Desember 2019. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa penyebab utama kematian babi di Sumut disebabkan oleh ASF.
 
Melalui kerja sama dengan kepolisian ini, Ketut menambahkan bahwa telah dilakukan pengawasan agar pembuangan bangkai babi dapat dicegah, dan bersama Tim Gabungan dilakukan pengumpulan serta penguburan bangkai ternak babi.
 
"Saat ini kasus pembuangan bangkai tersebut telah menurun akan tetapi pengawasan harus tetap dilakukan. Pengawasan diperlukan selain untuk masalah pembuangan bangkai juga untuk pengawasan lalulintas ternak babi dan produknya," tuturnya.
 
Ketut juga menyampaikan dukungannya untuk Pembentukan Tim Khusus Kepolisian di Sumut dalam penanganan kasus penyakit ASF ini. Menurutnya, hal ini merupakan kelanjutan kerja sama yang sudah terjalin dan sangat membantu TGC dalam upaya dalam pengendalian penyakit ASF di Sumut.
 
"Tim saat ini tetap melanjutkan pelaksanaan kegiatan di posko darurat dan lapangan untuk mengawasi lalu lintas ternak babi, sosialisasi, dan bimbingan teknis tentang ASF. Kementan juga telah mengalokasikan APBN sebesar Rp5 milyar untuk mendukung operasional di lapang," papar Ketut.
 
Sebelumnya penyakit ASF telah terjadi di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional sampai minggu ke-2 Desember 2019, total kematian ternak babi yang terjadi di Sumut dilaporkan mencapai 28.136 ekor.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif