Suasana konferensi pers SIAL Interfood. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.
Suasana konferensi pers SIAL Interfood. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.

Pameran Internasional Pacu Pertumbuhan Industri Mamin

Ekonomi pameran industri makanan
Ilham wibowo • 11 November 2019 19:49
Jakarta: Industri makanan dan minuman Indonesia terus didorong agar bisa mencapai target pertumbuhan kinerja sebesar sembilan persen 2019. Langkah tersebut perlu dilakukan dengan menghadirkan pameran bersekala internasional.
 
Pameran besar yang bakal hadir yakni Salon International de I’alimentation (SIAL Interfoood) di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta, pada 13-16 November 2019. Beragam produk makanan dan minuman serta jasa boga di Tanah Air bakal dipromosikan kepada pengunjung dari 72 negara yang bakal hadir.
 
"Ini adalah pameran internasional yang akan mendatangkan buyer potensial, sehingga kita bisa mempromosikan industri makanan dan minuman nasional ke dalam maupun luar negeri," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim di ruang Rajawali, Kemenperin, Jakarta, Senin, 11 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rochim menyampaikan industri makanan dan minuman menjadi salah satu industri unggulan dalam mendongkrak pertumbuhan industri, maupun pertumbuhan ekonomi. Kontribusi industri ini mencapai 36,49 persen terhadap pertumbuhan industri nonmigas hingga triwulan III-2019. Angka tersebut lebih tinggi dari periode yang sama di tahun sebelumnya yang angkanya 35,36 persen.
 
Kemenperin mendukung penyelenggaraan pameran tersebut agar terus mempromosikan produk Tanah Air di dalam maupun luar negeri. Kinerja pertumbuhan sektor ini diharapkan seusai target yang dicanangkan.
 
"Industri dalam negeri ini harus bisa jadi pilihan pertama sebelum membeli produk impor. Saya berharap industri mamin tetap menjadi prioritas," ujarnya.
 
Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Vita Datau mengatakan SIAL Interfood di Jakarta sebanding dengan pameran serupa di Eropa. Ia meyakini turis mancanegara pasti bakal banyak berdatangan dan menghabisi lebih lama waktu di Indonesia untuk berbelanja.
 
"Turis asing akan banyak hadir, ini dampaknya pada pariwisata. Pameran ini sebagai destinasi kuliner seperti magnet mereka datang untuk belanja. Selesai pameran mereka biasanya extended bisa USD1.000 sampai USD1.500 kalau dikalikan 2.500 orang itu cukup banyak," ungkapnya.
 
Sementara itu, Chief Executive Officer Krista Exibition Daud Dharma Salim menjelaskan, SIAL Interfoood merupakan ruang bisnis yang menyediakan peluang bagi seluruh peserta pameran. Mereka bisa mempromosikan produk, melakukan bisnis dan mencari solusi untuk kebutuhan bisnis.
 
"Ajang ini akan diikuti oleh 82 ribu pengunjung dari dalam maupun luar negeri dengan menampilkan 28 sektor antara lain produk susu dan telur, keju, daging, ikan, dan produk hasil laut, mesin kopi, mesin kasir, serta produk lainnya," ungkapnya.
 
Pameran tahun ini akan diikuti oleh 880 perusahaan yang berasal dari 30 negara, yakni Australia, Argentina, Belanda, Belgia, Tiongkok, Dubai, Ekuador, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Kuwait, dan lain sebagainya. Sebanyak 65 persen peserta pameran merupakan industri makanan dan minuman dari dalam negeri.
 
"Pameran ini sangat penting karena tidak hanya hadirkan tourist tapi juga akan melihat produk makanan olahan dari Indonesia," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif