Ilustrasi. MI/RAMDANI
Ilustrasi. MI/RAMDANI

Studi: Indonesia Perlu Tata Ulang Industri

Ekonomi pertumbuhan ekonomi perindustrian ekonomi indonesia revolusi industri
Antara • 01 November 2019 15:05
Jakarta: Studi bersama Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Bank Pembangunan Islam (IsDB) menyatakan Indonesia perlu menata ulang strategi industri. Hal itu untuk mendorong integrasi dalam jaringan produksi global dan menikmati manfaat jangka panjang dari perdagangan dunia.
 
Mengutip Antara, Jumat, 1 November 2019, studi berjudul The Evolution of Indonesia’s Participation in Global Value Chains mencatat bahwa partisipasi Indonesia dalam rantai nilai global mengalami penurunan dari 2000 hingga 2017.
 
Studi menyatakan produk setengah jadi Indonesia yang diekspor untuk produksi barang jadi di negara lain menurun dari 21,5 persen ekspor total menjadi 12,9 persen, sedangkan porsi produk dari luar negeri yang bernilai tambah dalam ekspor Indonesia juga menurun dari 16,9 persen menjadi 10,1 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Wakil Presiden ADB Urusan Pengelolaan Pengetahuan dan Pembangunan Berkelanjutan Bambang Susantono mengatakan terbatasnya partisipasi dalam rantai nilai global menyebabkan Indonesia tidak memperoleh manfaat dari perdagangan global sebanyak negara-negara tetangga di Asia.
 
"Indonesia tidak memperoleh manfaat sebanyak yang diperoleh negara-negara tetangganya di Asia, baik dari pertumbuhan perdagangan global, maupun dari pengalihan perdagangan akibat ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok," ujarnya.
 
Padahal, menurut dia, globalisasi produksi secara keseluruhan dapat membantu perekonomian dan tenaga kerja, maupun meningkatkan kesadaran terhadap alam lingkungan dan perubahan iklim, sehingga turut berkontribusi bagi pencapaian Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
 
Presiden Grup IsDB Bandar Hajjar menambahkan rantai nilai global saat ini telah membantu negara berkembang untuk turut berpartisipasi dalam proses produksi canggih tanpa harus mengembangkan keseluruhan ekosistem produksi.
 
"Rantai nilai juga telah memasuki dunia digital, sehingga menciptakan peluang dan tantangan bagi perorangan, perusahaan, dan berbagai bangsa. Partisipasi seperti itu dalam rantai nilai global telah meningkatkan pendapatan dan mendorong kemajuan perekonomian di banyak negara berkembang," ujarnya.
 
Studi gabungan ini menawarkan empat rekomendasi untuk mendukung partisipasi Indonesia dalam rantai nilai global. Pertama, membangun penguatan kerja sama antar industri dalam negeri yang akan membantu perusahaan untuk berinovasi, berekspansi, dan menawarkan nilai tambah lebih besar bagi perusahaan di luar negeri.
 
Hal ini dapat dilakukan melalui koordinasi kebijakan industri dan mengatasi hambatan dari sisi tata kelola untuk membantu perusahaan agar dapat berkembang. Kedua, investasi infrastruktur menjadi sangat penting di negara kepulauan seperti Indonesia guna memastikan adanya transportasi barang dan manusia yang efisien, serta pertukaran informasi yang cepat.
 
Pembangunan infrastruktur ini dapat menyediakan pasokan energi yang andal, terutama bagi perusahaan manufaktur yang padat modal. Selain itu, penyediaan sarana infrastruktur yang baik juga dapat memicu tumbuhnya perusahaan yang berkaitan dengan rantai nilai global.
 
Ketiga, untuk mengatasi dampak dari perubahan teknologi, Indonesia perlu mempertimbangkan kebijakan ketenagakerjaan yang mendorong tenaga kerja di sektor pertanian memasuki sektor-sektor lain. Kebijakan ini juga penting untuk memastikan para pekerja dapat meningkatkan keterampilan agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.
 
Keempat, Indonesia perlu berupaya mengembangkan kemampuan inovasi dengan menarik investasi asing dalam industri non ekstraktif serta industri penelitian dan pengembangan, khususnya industri yang terkait erat dengan sektor-sektor lain di dalam negeri.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif