Pedagang busana muslim di Pasar Tanah Abang. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Pedagang busana muslim di Pasar Tanah Abang. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Omzet Penjualan Baju Muslim Turun 30%

Ekonomi lebaran tanah abang dunia usaha
Desi Angriani • 04 Juni 2019 15:17
Jakarta: Omzet penjualan busana muslim di Tanah Abang turun 30 persen menjelang Idulfitri 1440 H. Penurunan terjadi hampir di semua toko pakaian muslim di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut.
 
Anggi, pemilik toko TS Maju Entreprise di Blok A, Tanah Abang, mengaku penjualan baju koko tahun ini rata-rata hanya sebesar Rp5 juta per hari. Biasanya ia bisa meraup untung hingga Rp10 juta per hari.
 
"Rata-rata omzet toko pakaian muslim turun 3o persen dari tahun lalu," ujar Anggi kepada Medcom.id di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa, 4 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika dibandingkan tahun lalu, Anggi bisa memperoleh omzet hingga Rp450 juta per hari untuk enam toko pakaian muslim yang dimilikinya. Kini, ia hanya menangguk untung sebesar Rp360 juta per hari untuk semua tokonya.
 
Karena penjualan mengalami penurunan, Anggi pun tidak memerlukan stok tambahan. Bahkan, stok baju koko di sejumlah tokonya masih menumpuk sepekan menjelang Lebaran. Rata-rata harga baju koko yang dijual Anggi berkisar antara Rp70 ribu sampai Rp150 ribu.
 
"Stoknya masih banyak sepekan sebelum Lebaran. Dijual dari harga Rp70 ribu dengan harga tertinggi Rp150 ribu tergantung model dan bahan," ungkap dia.
 
Hal serupa diungkapkan pemilik toko pakaian gamis, Mansyur. Menurutnya, penurunan omzet salah satunya imbas dari kerusuhan 22 Mei lalu. Saat itu, pasar Tanah Abang tutup selama dua hari. Rata-rata penjual mengalami kerugian hingga Rp20 juta per hari.
 
"Aksi 22 Mei kemarin tutup dua hari ya bisa Rp20 juta kerugiannya. Hampir semua toko begitu," ungkapnya kepada Medcom.id.
 
Adapun pemilik toko pakaian muslim Esty Collection, Uum, 45, mengeluhkan penurunan omzet menjelang Lebaran. Dibanding tahun lalu, Uum hanya meraup untung hingga Rp30 juta sehari.
 
"Agak berkurang dan agak merosot, sehari minimal Rp30 juta dibanding hari biasa ya lumayanlah," ungkap dia.
 
Sementara Uum, yang memiliki tiga toko di Blok B Pasar Tanah Abang ini mampu menjual 200 potong lebih pakaian muslim dalam sehari. Menurutnya, baju koko menjadi pakaian yang paling laris selama Ramadan ini.
 
"200 potong lebih untuk satu toko paling laki baju koko," tandasnya.
 
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman mengatakan kerusuhan 22 Mei kemarin pernah terjadi pada 2016. Data Kadin DKI Jakarta menyebut sebanyak 30 ribu toko di pusat perdagangan Ibu Kota tutup dengan kerugian omzet mencapai Rp600 miliar.
 
Sebanyak 75 persen dari toko tersebut yang antara lain berada di kawasan Glodok yaitu HWI, Lindeteves, Glodok Jaya, Glodok Makmur, Harco, Glodok City, dan Glodok Plaza tutup. Penutupan juga dilakukan di pusat bisnis daerah Mangga Dua serta pusat perdagangan lainnya yang berdekatan dengan pusat aksi unjuk rasa.
 
Sarman memprediksi kerugian omzet bisnis di Ibu Kota kali ini bisa lebih besar. Selain memasuki momentum Lebaran, agenda unjuk rasa juga beruntun sejak 21 Mei 2019.
 
"Omzet mereka hari biasa dengan hari saat ini beda. Hari ini boleh dikatakan sedang pada puncaknya dan omzet mereka sangat besar karena belanja di sana grosir dan partai besar," ungkapnya pada Rabu, 22 Mei 2019.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif