Seperti Firmansyah, supir Metromini P11 jurusan Senen-Bendungan Jago. Menurutnya, kenaikan BBM Solar tersebut dapat berakibat kurangnya setoran kepada pemilik angkutan.
"Ya tuh, masak naiknya sampai dua kali lipat," ujarnya kepada Metrotvnews.com di Terminal Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (2/8/2014).
Terlebih, lanjut dia, daerah operasi angkutannya hanya berkisar di Jakarta Pusat. Untuk itu, kata bapak beranak tiga ini mensiasatinya dengan mengisi bahan bakar di Jakarta Utara.
"Biasanya kita ngisi di Kemayoran, tapi karena mahal, kita cari ke utara (Jakarta Utara)," jelasnya.
Dia berharap pemerintah kembali mensubsidi solar di Jakarta Pusat. Bahkan, dia meminta rencana untuk menaikkan harga solar di Indonesia untuk dibatalkan.
Jika memang kebijakan itu diterapkan, dia khawatir akan mematikan usahanya sebagai sopir. Lantaran para penumpang enggan jika tarif dinaikan. Untuk diketahui tarif P11 jauh dekat Rp3.000.
"Tiga ribu saja udah susah ditagihnya, apalagi kalau naik," keluh Firman.
Senanda dengan Firman, kondektur P11, Rivai pesimistis keluhan sopir akan didengar. Sekalipun, mereka berdemonstrasi. "Percuma demo, cuman bikin capek doang, didenger juga kagak," tutup rivai yang telah 5 tahun mejadi kondektur ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News