Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono. FOTO: dok Kemenperin.
Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono. FOTO: dok Kemenperin.

Sektor Mamin Melampaui Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi industri makanan kementerian perindustrian
Nia Deviyana • 08 Oktober 2019 14:28
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja industri makanan dan minuman (mamin) dalam kurun lima tahun terakhir konsisten positif melampaui pertumbuhan ekonomi.
 
Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan sektor mamin tumbuh rata-rata di atas 8-9 persen.
 
"Jadi, kalau industri makanan dan minuman ini kita berikan upaya-upaya peningkatan yang lebih besar lagi melalui industri 4.0, tentu pertumbuhannya bisa double-digit," ungkap Sigit melalui keterangan resminya, Selasa, 8 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selama ini, lanjut Sigit, industri makanan dan minuman berperan penting dalam peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri.
 
"Sektor ini memang mempunyai nilai tambah paling tinggi, karena seluruh komponen bahan bakunya sebagian besar itu berasal dari dalam negeri. Apalagi, sektor ini didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) sehingga bisa mewujudkan ekonomi yang inklusif," imbuhnya.
 
Selain industri mamin, pemerintah juga tengah fokus membuat strategi untuk mengembangkan sektor industri kimia dengan menarik investasi untuk memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri.
 
"Sebab, dari 1998, belum ada investasi yang besar khususnya di industri petrokimia. Padahal, produksi dari sektor tersebut banyak dibutuhkan untuk memasok kebutuhan bagi sektor lainnya,” ujar Sigit.
 
Kemenperin optimistis implementasi industri 4.0 akan mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2 persen, peningkatan kontribusi sektor terhadap PDB hingga 25 persen pada 2030, peningkatan net export hingga 10 persen, serta mengisi kebutuhan tenaga kerja yang melek digital hingga 17 juta orang untuk mendorong peningkatan nilai tambah terhadap PDB nasional hingga USD150 miliar pada 2025.
 
"Pemerintah telah menjalankan langkah-langkah strategis untuk mendukung percepatan adopsi industri 4.0, antara lain meluncurkan Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0) atau
indikator penilaian tingkat kesiapan industri di Indonesia dalam menerapkan teknologi era industri 4.0," papar Sigit.
 
Selanjutnya, Indonesia ditunjuk menjadi official partner country pada Hannover Messe 2020 yang merupakan platform strategis untuk mengkampanyekan Making Indonesia 4.0 secara global.
 
"Beberapa waktu lalu, Bapak Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto turut melaksanakan kick-off pameran teknologi terbesar dunia tersebut yang akan diselenggarakan enam bulan dari sekarang," ungkapnya.
 
Kemenperin juga mendorong tumbuhnya bisnis rintisan melalui program Making Indonesia 4.0 Startup yang bertujuan menggali ide-ide inovasi dari perusahaan-perusahaan startup berbasis teknologi yang dapat mendukung pelaku IKM maupun menyuplai teknologi bagi para investor.
 
Bahkan, untuk memanfaatkan peluang bonus demografi di era industri 4.0, pemerintah berkomitmen menyiapkan SDM industri melalui beragam fasilitas, seperti insentif pajak super melalui Peraturan Pemerintah Nomor 45/2019 yang memberikan potongan pajak hingga 200 persen untuk investasi terkait pengembangan pendidikan vokasi, 300 persen untuk RnD, serta 60 persen untuk industri padat karya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif