Illustrasi. Dok : MI/Ammirudiin.
Illustrasi. Dok : MI/Ammirudiin.

50% Pengusaha Logistik Beralih dari Transportasi Udara

Ekonomi logistik
Nia Deviyana • 27 Februari 2019 19:49
Jakarta: Tingginya tarif kargo udara mau tidak mau mengubah peta pengiriman logistik di Indonesia yang mulai beralih pengirimannya via jalur darat dan laut.
 
Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Budi Paryanto mengatakan hal ini sebagai sebuah pilihan bisnis yang tak bisa dihindari.
 
"Kalau presentase sudah 50 persen beralih (dari transportasi udara)," ujar Budi usai mengisi diskusi di Hotel Millenium Sirih, Jakarta Pusat, Rabu, 27 Februari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, pengalihan pengiriman hanya untuk jangkauan daerah tertentu.
 
"Seperti Jawa, pengirimannya bisa dikombinasikan dengan transportasi darat. Atau Pontianak dan Banjarmasin, bisa menggunakan transportasi laut dengan jarak tempuh dua hari. Kalau untuk pengiriman yang memakan waktu lebih dari itu, kita masih utamakan dengan udara," papar dia.
 
Sebelumnya, berubahnya peta pengiriman logistik sebagai imbas naiknya tarif kargo udara juga diamini Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). Positifnya, kenaikan ini membuka peluang-peluang baru jasa angkut barang melalui jalur darat.
 
"Suatu kenyataan yang akan mengubah landscape logistik di Indonesia, dan akan membuka peluang-peluang baru dari sisi logistik. Jadi kita harus menerimanya dan memanfaatkan," ujar Ketua Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita, saat dihubungi Medcom.id, belum lama ini.
 
Zaldy mengungkapkan peluang itu bisa tercipta dari hadirnya tol Trans Jawa yang menghubungkan Jawa Barat hingga Jawa Timur. Pengiriman barang di dalam Pulau Jawa pun bakal lebih mudah dan murah. Hal ini tentu berdampak pada penurunan pelanggan kargo udara.
 
"Tol Trans Jawa juga menjadi alternatif lain untuk pengiriman cepat di Jawa karena untuk pengiriman ke Jateng dan Jatim sudah bisa kurang dari 24 jam," imbuh dia. Namun demikian, lanjutnya, perubahan peta logistik Tanah Air diharapkan tidak menjadi ladang mencari keuntungan melalui kartel. "Tapi jangan sampai kenaikan SMU mencari keuntungan berlebih," tambah Zaldy.
 
Berdasarkan catatan Asperindo, kenaikan tarif kargo bervariasi mulai dari 70 persen hingga 352 persen sejak Juli 2018 hingga 14 Januari 2019.
 
Pada 2018, maspakai Garuda tercatat melakukan kenaikan tarif sebanyak empat kali, yakni Juni, Oktober sebanyak dua kali dan November. Sementara, kenaikan pada awal 2019 sudah terjadi sebanyak dua kali yakni, pada 1 Januari dan 14 Januari.
 
Misal tarif kargo ke wilayah Batam mengalami kenaikan dua kali lipat dari Rp7.500 pada Oktober 2018 menjadi 15.400 pada Januari 2019. Selanjutnya, Medan naik dari Rp8.200 menjadi Rp17.000, Palembang naik dari Rp2.100 menjadi Rp9.500, Jayapura naik dari Rp32.000 menjadi Rp61.500, Makassar naik dari Rp13.500 menjadi Rp28.700.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif