Menurut Mochtar, saat ini banyak rumah sakit umum yang ada di Indonesia sangat tidak layak, baik dari fasilitas maupun pelayanan yang diberikan. Dia pun berambisi membangun rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan yang baik dan yang dibutuhkan di Indonesia.
"Kalau saya diberikan kesempatan, saya akan membangun rumah sakit yang lebih banyak, karena rumah sakit umum yang ada di Indonesia sangat tidak layak, meski banyak subsidi yang diberikan pemerintah. Rumah sakit swasta justru lebih bersih dan tidak jorok," ujar Mochtar, ditemui saat peluncuran buku otobiografi Mochtar Riady 'Manusia Ide', di Hotel Aryaduta Tugu Tani, Jakarta, Selasa (26/1/2016).
Mochtar pun menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke rumah sakit umum yang kotor tersebut. Saat itu, dia bersama Presiden Jokowi ingin meresmikan Rumah Sakit Siloam Internasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Ketika ingin meresmikan, Pak Presiden Jokowi tiba-tiba mau ke rumah sakit umum di Kupang, tiba sampai di lokasi begitu kotornya rumah sakit di sana. Jadi ini yang menjadi alasan saya ingin membangun rumah sakit yang lebih bersih," tutur Mochtar.
Mochtar pun cukup resah dengan keadaan rumah sakit umum pemerintah yang dananya didapatkan dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) setiap tahunnya. Namun hasil kinerjanya sangat di luar dugaan bila dibandingkan dengan rumah sakit yang dimiliki pihak swasta.
"Mereka dapat gedung dari negara, pegawainya digaji sama negara, dapat BPJS juga, itu semua subsidi, tapi sangat kotor. Beda sekali dengan rumah sakit saya yang tidak dapat sama sekali subsidi, tapi bisa memberikan pelayanan yang baik. Jadi pembangunan rumah sakit salah satu tujuan saya," beber Mochtar.
Di sisi lain, Mochtar menyoroti jauhnya perbedaan antara mahasiswa kedokteran yang setiap tahunnya hanya menghasilkan 7.000 dokter, dengan jumlah tiga juta bayi yang lahir setiap tahun.
"Jadi kesenjangan ini yang harus disoroti. Antara rumah sakit yang layak, dan kita ingin juga tidak jauh antara perbedaan jumlah dokter dan bayi yang lahir tiap tahunnya. Karena kalau itu terjadi, tidak ada keseimbangan, apalagi Indonesia butuhkan yang khususnya spesialis," pungkas Mochtar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News