Maka itu, Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan akan meningkatkan serapan kopi industri dengan strategi memperluas ragam pemanfaatan atau diversifikasi produk kopi ke industri lainnya.
"Diversifikasi produk kopi tidak hanya sebagai minuman tetapi dikembangkan dalam berbagai jenis produk lainnya seperti kosmetik, herbal, farmasi, hingga esens makanan. Maka, mata rantainya makin panjang, beragam dan memberi nilai tambah yang dapat dinikmati petani sampai industri," ujar Saleh dalam rapat pengembangan kopi nasional bersama di Mahan Agung Rumah Jabatan Gubernur Lampung, Jalan Dr Susilo No 1, Bandar Lampung, Sabtu (13/2/2016).
Saleh menambahkan, untuk mempercepat peningkatan ragam produk turunan kopi, pemerintah bakal menjamin iklim usaha yang kondusif bagi industri pengolahan kopi melalui kebijakan fiskal dan non-fiskal serta penerapan standar.
"Ruang pengembangan kopi kita masih lebar. Nilai ekonominya juga terus tumbuh namun jangan sampai kita terlena karena negara kompetitor juga agresif melakukan pengembangan produk kopi," tegas Saleh.
Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), ekspor produk kopi olahan tahun 2015 mencapai USD356,79 juta atau meningkat sekitar 8 persen dari tahun lalu. Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, RRC, dan Uni Emirat Arab.
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan, peningkatan produksi kopi berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Menurutnya, kopi dan cokelat merupakan dua komoditas yang tidak terpengaruh krisis.
"Tiap kenaikan harga kopi maka berarti pemerataan pendapatan karena 96 persen kebun kopi adalah perkebunan rakyat. Berbeda dengan sawit yang pengusahaannya didominasi perusahaan besar," ujarnya.
Wapres menambahkan, kebijakan pemerintah untuk semua komoditi pertanian berbasis pangan semata mendongkrak produksi. Luas areal kopi nasional mencapai 1,23 juta hektare dengan produktivitas 721 kg/ha. Komoditas ini menciptakan lapangan kerja bagi 1,79 juta kepala keluarga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News