Ilustrasi (MI/ANGGA YUNIAR)
Ilustrasi (MI/ANGGA YUNIAR)

Penambahan Stok Gula Perlu Dilakukan

Ekonomi gula swasembada gula lelang gula rafinasi
Ilham wibowo • 16 Januari 2019 10:38
Jakarta: Penambahan stok Gula Kristal Rafinasi (GKR) disebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan pasar terkait produk turunan. Pertumbuhan kinerja positif sektor industri pun perlu ditopang guna ketersediaan bahan baku.
 
Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan pihaknya memproyeksikan sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi naik 5-6 persen per tahun. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang mampu di atas tujuh persen per tahun.
 
"Pada periode Januari-September 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 9,74 persen, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I-2018. Kami pun memproyeksi pertumbuhan kedua sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada 2019,” kata Sigit, di Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sigit menjelaskan kinerja positif yang akan dicatatkan industri makanan dan minuman di tahun politik ini karena adanya kegiatan Pileg dan Pilpres serentak pada 17 April 2019. Momentum ini dinilai membuat lonjakan terhadap konsumsi produk makanan dan minuman.
 
Catatan kinerja positif juga terjadi pada sektor industri farmasi yang tengah bertumbuh. Saat ini, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih menjadi magnet bagi investor untuk ekspansi karena dapat meningkatkan permintaan di pasar domestik.
 
"Kami perkirakan pertumbuhan industri farmasi mampu menembus level 7-10 persen di 2019. Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol dengan adanya program JKN," paparnya.
 
Dalam menjaga keberlanjutan produktivitas di sektor industri, Kemenperin terus berupaya memastikan ketersediaan bahan baku. Selama ini, aktivitas manufaktur konsisten memberikan efek berantai bagi perekonomian nasional yakni melalui peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.
 
"Salah satunya adalah kebutuhan GKR. Pada 2018, realisasi penyaluran GKR untuk industri makanan dan minuman, serta farmasi sebesar 3,0 juta ton, yang dipenuhi oleh pabrik GKR yang mengolah gula mentah (raw sugar/RS) impor sebesar 3,2 jt ton," tukas Sigit.
 
Rekomendasi impor yang dikeluarkan Kemenperin berupa impor gula mentah diberikan kepada industri yang mengolah gula mentah menjadi GKR untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman, serta farmasi.
 
Impor gula mentah yang akan diolah menjadi GKR dalam rangka memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman hanya 2,8 juta ton pada 2019, turun sekitar 12,5 persen dibandingkan dengan di 2018 walaupun pertumbuhan industri makanan dan minuman di tahun ini diprediksi tetap naik di atas delapan persen.
 
"Impor gula mentah selama ini didatangkan dari India, Thailand, Australia, dan Brasil," sebutnya.
 
Sigit menambahkan pemerintah berupaya menekan volume impor dengan menggenjot investasi industri gula terintegrasi dengan kebun. Saat ini, sudah ada tiga investor yang menyatakan berkomitmen berinvestasi di sektor ini.
 
"Pabrik gula terintegrasi yang selesai baru satu dari tiga yang saat ini sedang melakukan investasi," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi