BI: Ekspor dan Pariwisata Kunci Ketahanan Ekonomi RI
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara. Foto: Antara/Zabur Karuru
Nusa Dua: Ekspor dan pariwisata disebut menjadi kunci ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan global. Kedua sektor ini perlu didorong untuk mengurangi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan (CAD).

Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara dalam seminar reinventing bretton woods commitee di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia 2018.

Mirza mengatakan defisit transaksi berjalan masih terjadi karena kebutuhan pembangunan infrastruktur. Sebab, sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia membutuhkan fasilitas seperti bandara, pelabuhan, dan tol laut.

Di samping infrastruktur, impor minyak Indonesia juga menjadi salah satu faktor pelebaran CAD. "Untuk itu, Pemerintah telah mendorong penggunaan B20, yaitu bahan bakar yang dicampur dengan minyak kelapa sawit untuk mengurangi kebutuhan impor," kata Mirza di Nusa Dua Bali, Kamis, 11 Oktober 2018.

Dengan kebutuhan impor yang besar tersebut maka semakin penting bagi Indonesia untuk mendorong ekspor dan pariwisata. Berbagai destinasi wisata pun terus dikembangkan, agar wisatawan asing memiliki pilihan destinasi selain Bali.

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) pun ditargetkan terus bertambah, yaitu 20 juta orang pada 2020 dan 25 juta pada 2025. "Meningkatnya wisatawan yang datang diharapkan dapat menambah penerimaan devisa negara," imbuhnya.

Di sisi lain, proses normalisasi negara maju khususnya Amerika Serikat (AS) memang berdampak bagi negara berkembang. Demikian pula, neoproteksionisme yang dimulai pada 2016 dan semakin booming pada 2018.

"Kebijakan-kebijakan ekonomi AS dan Tiongkok, khususnya, membawa pengaruh kepada negara berkembang, termasuk dari sisi nilai tukar," pungkas Mirza.
 




(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id