Deputi Komisioner Pengawas IKNB OJK Mochammad Ihsanuddin. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Deputi Komisioner Pengawas IKNB OJK Mochammad Ihsanuddin. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Kekhawatiran Pemilu 2019 Jadi Tantangan bagi IKNB

Ekonomi pilpres 2019 industri keuangan non bank (iknb)
Eko Nordiansyah • 12 Maret 2019 11:58
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pesta demokrasi tahun ini sedikit banyak akan memengaruhi kinerja Industri Keuangan Non Bank (IKNB). Para pelaku usaha dinilai masih menunggu kepastian daripada hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun Pemilihan Legislatif (pileg) April 2019.
 
"Kita masih ada kekhawatiran bukan berarti Pilpres dan Pilkada 17 April nanti. Tapi sedikit banyak ada sedikit dag dig dug khawatir juga kan," kata Deputi Komisioner Pengawas IKNB OJK Mochammad Ihsanuddin dalam seminar di JW Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa, 12 Maret 2019.
 
Dirinya menambahkan, kondisi 'panas' menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) sebenarnya hanya terjadi di media sosial saja. Oleh karena itu, setelah Pemilu 2019 selesai diharapkan kinerja dari IKNB akan mulai mengalami peningkatan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kan kita menghadapi bersama-sama pemilihan presiden dan Pileg, akan terjadi perlambatan sejenak lah. Semoga setelah itu suasana kondusif, sehingga pelaku sektor riil maupun sektor finansial itu cepat bangkit lagi," jelas dia.
 
Selain itu, perlambatan ekonomi global yang diprediksi masih berlanjut tahun ini juga akan mempengaruhi kinerja IKNB. Perlambatan ekonomi global dikhawatirkan akan mempengaruhi ekonomi nasional, yang pada akhirnya membawa dampak ke industri.
 
"Ini membawa dampak turunnya beberapa harga komoditas. Kalau dikaitkan dengan IKNB yang membiayai, khususnya multifinance, alat-alat berat itu menurun karena (industri) tambang-tambang juga lesu, otomotif juga menurun, properti juga menurun," ungkap Ihsan.
 
Tantangan lainnya adalah defisit transaksi berjalan (CAD) yang masih terjadi di Indonesia. OJK berharap dengan koordinasi antar kementerian dan lembaga, industri jasa keuangan, termasuk IKNB, bisa ikut terlibat untuk membantu mengurangi CAD.
 
"Kita itu mendukung CAD, jadi industri jasa keuangan kita juga didorong untuk melakukan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas, yaitu sektor yang mendukung ekspor, sektor pariwisata, sektor perumahan," pungkasnya.
 
Pada 2018, OJK mencatat Risk-Based Capital industri asuransi umum dan asuransi jiwa masing-masing sebesar 315 persen dan 412 persen, lebih tinggi dari threshold 120 persen. Gearing ratio perusahaan pembiayaan pun tercatat sebesar 2,97 kali, jauh di bawah threshold maksimal sebesar 10 kali.
 
Untuk 2019, OJK memperkirakan pertumbuhan aset asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing diperkirakan tumbuh sebesar 10 sampai 13 persen dan 14 sampai 17 persen. Aset perusahaan pembiayaan tumbuh delapan sampai dengan 11 persen.
 
Sementara itu, OJK memprediksi aset dana pensiun diperkirakan tumbuh moderat. Untuk Dana Pensiun Pemberi Kerja asetnya diprediksi tumbuh antara tujuh hingga sembilan persen dan sekitar 13 hingga 16 persen untuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif