NEWSTICKER
ilustras. Medcom.id
ilustras. Medcom.id

PERPI: Sistem Online Mudahkan Pelaku Bisnis Lihat Segmen Pasar

Ekonomi
Medcom • 20 Maret 2020 15:00
Jakarta: Sistem online dinilai memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Hal itu pula yang memudahkan pelaku usaha melihat segmen pasar.
 
Ketua Umum Perhimpunan Riset Pemasaran Indonesia (PERPI) Rhesa Yogaswara mengatakan, ketika orang sadar akan pentingnya kesehatan, perawatan, dan pendidikan yang baik, persepsi masyarakat terhadap harga di industri semakin membaik. Hal itu ditandai dengan meningkatnya minat daya beli.
 
"Tren kesehatan dan kesejahteraan yang meningkat dapat membantu mendorong sektor-sektor ini semakin baik di tahun 2020. Sektor ritel untuk produk kesehatan dan kecantikan pun turut mendukung dan mengarahkan tren," kata Rhesa, Jumat, 20 Maret 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Rhesa, tren itu seiring dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, yaitu membuat perilaku konsumen di dunia mengalami perubahan. Gaya hidup yang dulunya offline, saat ini dibiasakan dengan sistem serba online. Hal tersebut memudahkan pelaku bisnis melihat segmen pasar.
 
"Apakah hal ini memang berdampak terhadap perilaku konsumen, produsen dan pelaku bisnis di Indonesia? Pertanyaan inilah yang ingin dijawab PERPI yang melakukan riset dengan dengan metodologi survei online kuantitatif," kata Rhesa.
 
Rhesa menjelaskan, riset melibatkan 1.200 responden di lima wilayah Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali-Nusa, Kalimantan, dan Sulawesi). Beberapa poin penting dapat ditarik dari riset yang dilakukan. Satu, meningkatnya tren kesehatan dan kesejahteraan.
 
Kedua, responden menunjukkan hal positif terhadap kebijakan ekonomi, politik. Kondisi ketenagakerjaan diyakini akan meningkat pada tahun 2020 ini. Ketiga, meningkatnya harga yang membaik di industri makanan baik di ritel maupun di segmen food service.
 
Aspirasi responden yang lebih tinggi didorong oleh masyarakat Middle-Up dan SES-C, dimana kelas SES-C juga menunjukkan indikasi Spending More. "Minat pembelian di sektor ini pada tahun 2020 diprediksi mengalami penurunan karena masyarakat cenderung menahan untuk membelinya," kata Rhesa.
 
Keempat, layanan perbankan (seperti tabungan dan pinjaman), diprediksi akan membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kelompok konsumen 45-54 tahun diprediksi akan melakukan spending more untuk layanan perbankan, baik pendanaan maupun pinjaman. "Terlebih dengan adanya digitalisasi di sektor keuangan, konsumen semakin terbiasa dengan aktivitas serba online," tutur Rhesa.
 
Sedangkan untuk kendaraan, mobil dan motor, belum ada indikasi spending more di 2020 yang cukup kuat secara signifikan. Namun masyarakat akan lebih banyak membelanjakan uangnya untuk tiket pesawat atau kereta dan hotel atau motel. Hal itu ditandai dengan tingginya aktivitas online yang sering masyarakat gunakan untuk kebutuhan transportasi.
 
Hasil riset PERPI itu sebelumnya dipresentasikan dalam acara tahunan “Indonesia Market Behaviour Outlook 2020” pada 22 Januari 2020. Acara itu mengambil topik “Winning in Disruptive World”. PERPI juga mengundang sejumlah narasumber dari kalangan pelaku bisnis besar maupun startup yang juga sudah mengubah norma bisnis dari masing-masing industri seperti retail, food,travel dan perbankan.
 
Para narasumber itu di antaranya; speaker Keith Ang dari Kantar, Ketua Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) Roy N Mandel, Samira Shihab dari Tinkerlust, Peter Shearer dari Wahyoo, Galuh Chandrakirana dari Shopback, Karlina Ayuningtyas dari Traveloka, dan Simon Jonathan selaku presiden direktur PT. Bintang Toedjoe. Mereka berbagi cerita mengenai apa yang dilakukan untuk menciptakan disruption agar memenangkan persaingan dan tantangan-tantangan dunia bisnis ke depannya.
 
Rhesa pun menyitir pernyataan IMF (2019) bahwa pertumbuhan global 2020 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. GDP dunia mencapai USD 3,4 pada 2020, sedangkan pada 2019 hanya USD 3,0. Yang menjadi sorotan utama ekonomi global saat ini adalah Perang Perdagangan, Resiko Geopolitis, dan Pasar Finansial. Di Indonesia, kata Rhesa, keadaan ekonomi makro tumbuh lebih baik dibandingkan dengan keadaan ekonomi mikro.
 
PERPI: Sistem Online Mudahkan Pelaku Bisnis Lihat Segmen Pasar
 
Hal ini sesuai dengan pernyataan Ketua Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia) Roy N Mandel. Dia mengatakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,02 % pada 2019 karena didukung indikator makro ekonomi yang masih cukup baik.
 
Ekonomi makro di Indonesia yaitu nilai tukar rupiah lebih besar dibandingkan tahun lalu, tingkat inflasi dan tingkat pengangguran yang lebih rendah. Ekonomi mikro di Indonesia yaitu sektor industri dan pertumbuhan F&B lebih lambat (BPS, Kementerian Perdagangan).
 
Karlina Ayuningtyas sepakat dengan hal tersebut. Traveloka menyediakan pemesanan tiket pesawat dan kamar hotel yang kompetitif dengan pembayaran fleksibel. Wisatawan bisa mendapatkan informasi tentang hotel, restoran, dan ulasan pengunjung yang memungkinkan mereka membuat keputusan yang lebih baik. Untuk kebutuhan home appliance dan furniture, minat pembelian produknya meningkat di tahun 2020, ditandai salah satunya dengan membaiknya persepsi harga di tahun ini.
 
Fajar Jaman memaparkan bahwa kolaborasi seperti Grab dan Ovo dapat memudahkan pengguna dalam melakukan transaksi, dimana setiap kegiatan dapat dilakukan hanya melalui smartphone. Aplikasi seperti Gojek dan Grab pun tidak hanya melayani transportasi saja, tetapi dilengkapi dengan fitur makanan, kesehatan, pembayaran pulsa/token, dan tagihan untuk memudahkan para pengguna. Konsumen lebih tertarik menggunakan online channel karena lebih praktis, lebih cepat, tersedia, dan dilengkapi dengan gambar/foto.
 
Keith Ang dari Kantar sendiri mengungkapkan bagaimana kita bisa mempelajari perilaku konsumen dengan memanfaatkan teknologi seperti Siri atau Alexa. Pembicara lain dari ESOMAR memperlihatkan perubahan ataupun inovasi yang terjadi di dunia riset pemasaran. Olah data di dunia saat ini, katanya, sudah bertransformasi menjadi serba digital.
 
Aspirasi Konsumen
 
PERPI menyimpulkan, konsumen menganggap pembelian secara online ini masih belum bisa menjawab aspirasi konsumen dalam hal kualitas dan kredibilitas suatu produk. Soal itu, PERPI melihat beberapa faktor kunci terkait perilaku konsumen di tahun 2020. Pertama, merasionalisasikan pengeluaran untuk kebutuhan dasar.
 
Kedua, memiliki aspirasi dan harapan yang lebih tinggi akan suatu produk dan layanan.Ketiga, spending more untuk kebutuhan sekunder dan tersier. Keempat, semakin tinggi intensitas akan aktivitas digital di dalam kehidupan sehari-hari.
 
Orang nomor satu di PERPI ini mengungkapkan, key driver pola perilaku konsumen akan berasal dari Gen X (45-54 tahun), yang memiliki indikasi more spending di sektor fintech.
 

(FZN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif