Bank Muamalat -- Foto: dok  Bank Muamalat
Bank Muamalat -- Foto: dok Bank Muamalat

Restu OJK Permudah Penyehatan Bank Muamalat

Ekonomi ojk bank muamalat
Desi Angriani • 05 Februari 2020 23:01
Jakarta: Direktur Utama Bank Muamalat Achmad K Permana mengatakan restu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempermudah langkah konsorsium Al Falah dalam menyehatkan bank syariah itu. Persetujuan aksi korporasi saat ini tinggal menunggu proses administrasi.
 
"Saya akan menindaklanjuti green light atau komitmen OJK itu dengan berkoordinasi dengan OJK dan investor," katanya ditemui ditemui di Muamalat Tower, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 5 Februari 2020.
 
Achmad sudah menyiapkan rencana jangka pendek setelah likuditas bank Muamalat kembali menguat. Ia berencana mengubah model bisnis dari pendanaan di segmen usaha korporasi menjadi ke segmen ritel.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Model bisnis kita akan berubah, selama ini kita lebih ke korporasi sampai 65 persen," terangnya.
 
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa, Muamalat menerbitkan 32 miliar lembar saham dengan perkiraan modal maksimum yang akan diraih mencapai Rp3,2 triliun. Di samping itu, perseroan juga menyetujui menerbitkan sukuk dengan nilai Rp6 triliun.
 
"Apakah mau di exercice atau dikombinasi itu bisa saja diselesaikan," tambahnya.
 
Sementara itu, Komisaris Utama Bank Muamalat Ilham Habibie mengatakan tujuan penyelamatan bank syariah pertama di Indonesia ini demi kemaslahatan umat. Muamalat memiliki peran penting sebagai cikal berkembangnya sektor syariah di Tanah Air.
 
“Dan kita ini adalah bank dari umat untuk umat. Dan untuk kemaslahatan umat ini perlu adanya wahana seperti Bank Mualamat,” jelasnya.
 
Ia berharap penyelamatan Muamalat dapat mendorong tumbuhnya industri syariah di Indonesia. Terlebih perkembangan teknologi dapat mendongkrak nasabah milenial melalui program dan produk yang akan dikembangkan.
 
“Muamalat akan berkembang dengan sangat baik karena generasi milenial menghidupkan style kesyariahan dan kehalalan semakin berkembang dan mainstream dari masyarakat,” terangnya.
 
Bank Muamalat menghadapi masalah permodalan sejak 2015. Puncaknya pada 2017, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) turun menjadi 11,58 persen.
 
Kinerja Bank Muamalat tergerus oleh lonjakan pembiayaan bermasalah atau non-performing finance (NPF). NPF bank syariat itu bahkan sempat di atas lima persen, lebih tinggi daripada batas maksimal ketentuan regulator.
 
Nantinya konsorsium Al Falah akan memegang 50,3 persen saham Bank Muamalat. Dengan demikian saham yang dimiliki oleh Islamic Development Bank akan turun menjadi 11,4 persen dari 32,7 persen dan Boubyan Bank dari 22 persen dari 7,7 persen.
 

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif