Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi (Foto:Dok.Kementan)
Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi (Foto:Dok.Kementan)

Beras TTI Jadi Primadona Masyarakat dan Pedagang Kecil

Ekonomi berita kementan
M Studio • 23 November 2017 18:24
Yogyakarta: Kehadiran Toko Tani Indonesia (TTI) di tempat-tempat strategis seperti permukiman dan pinggir jalan pertokoan maupun perumahan, sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan beras berkualitas dengan harga terjangkau.
 
Misalnya, TTI Acar yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk Yogyakarta. Di toko milik Benyamin Praktikno ini selain masyarakat biasa yang menjadi langganan, ternyata juga banyak diminati pedagang kecil seperti penjual bubur ayam, soto, dan warung nasi.
 
"Yang membeli beras di toko kami macam-macam orangnya. Selain masyarakat biasa yang sudah menjadi langganan, banyak juga pedagang di sekitar sini yang belanja," ujar Benyamin, menjelaskan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Benyamin mengaku menjual beras TTI seharga Rp8 ribu per kilogram, sebanyak 5 kwintal setiap harinya. Beras TTI yang dijual kualitasnya cukup bagus, sehingga banyak pedagang makanan yang menjadi langganan. "Menurut pedagang makanan di sini, rasa nasinya enak, sehingga jualannya cepat habis," kata dia.
 
Dengan adanya TTI, masyarakat bisa membeli harga beras berkualitas dengan harga terjangkau.
 
"Kami sengaja hadirkan TTI di perkotaan agar warga tidak kesulitan mendapatkan beras berkualitas dengan harga terjangkau," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi, saat mengunjungi TTI Acar.
 
Menurut Agung, beras TTI lebih berkualitas karena disimpan di dalam gudang gapoktan, kemudian digiling, dikemas, dan dipasarkan.
 
"Dari apa yang kita lihat di sini, jelas bahwa peran TTI ke depan sangat strategis untuk memudahkan masyarakat mendapatkan beras berkualitas dengan harga terjangkau," kata Agung.
 
"Kualitas beras di TTI jelas lebih segar karena baru keluar dari penggilingan yang dikirim gapoktan. Harganya terjangkau, karena kami potong rantai pasok yang panjang menjadi tiga mata rantai, yaitu gapoktan ke TTI dan TTI menjual langsung kepada konsumen," ujar Agung.
 
Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Yogyakarta, Arofah Noor Indriyani mengatakan bahwa jumlah LUPM (Lembaga Usaha Pangan Masyarakat) yang bermitra dengan TTI saat ini mencapai 10 LUPM, yang memasok ke 43 TTI.
 
"Ke depannya kami akan tambah jumlah gapoktan menjadi 10 dan TTI sebanyak 20, sehingga masyarakat bisa mengakses pangan dengan mudah, dan harganya terjangkau," kata Arofah.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif