Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Foto : MI/Susanto.
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo. Foto : MI/Susanto.

Yasin Limpo Sambangi BPS Sinergi Data Pangan

Ekonomi bps mentan
Ilham wibowo • 29 Oktober 2019 16:01
Jakarta: Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memastikan bakal merealisasikan implemetasi data tunggal untuk pangan. Sinergi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) pun dilakukan.
 
Syahrul menunjukkan komitmennya dengan mendatangi langsung Kepala BPS Suharyanto. Tiba di gedung BPS pukul 14.00 WIB, Syahrul yang mengenakan jas hitam disambut hangat jajaran pejabat BPS. Mereka direncanakan terlibat rapat secara tertutup di gedung III kantor BPS Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Selasa, 29 Oktober 2019.
 
Sinergi Kementan dengan BPS ihwal penggunaan data itu pun ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Syahrul bahkan menegaskan penyelarasan data tunggal rujukan nasional tersebut bisa rampung paling lambat dalam 100 hari masa kerjanya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"100 hari pertama kami harap dengan BPS akan mewujud single data yang berlaku nasional, jangan ada yang pusing soal itu," kata Syahrul dalam pidato pertama kepada jajarannya usai dilantik menjadi Mentan.
 
Kementan dan BPS bakal menghitung luas lahan pertanian bersama-sama. Petugas teknis sampai level kecamatan pun diminta ikut terlibat dan memastikan data yang tersedia agar lebih akurat.
 
“BPS biasanya ambil ubinan di tempat sendiri, Kementan ambil ubinan di tempat sendiri, ubinan itu contoh dari ukuran masing-masing. Saya harap memang satu ubinan dihitung empat orang dari empat departemen, dengan begitu hasilnya kita pastikan jadi satu,” paparnya.
 
Selain penyelerasan data melalui kolaborasi sejumlah lembaga, Syahrul juga menginginkan pemanfaatan teknologi citra satelit tetap dipakai. Teknis yang terus dimatangkan itu pun diharapkan dapat menjadi dasar perhitungan produksi komoditas pertanian lainnya.
 
“Datanya harus satu, yang mengeluarkan BPS tapi harus diklarifikasi semua kementerian, jangan ada data pertanian yang lain lagi, data pertanian ada di BPS,” kata Syahrul.
 
Dalam kesempatan berbeda, Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan pihaknya sudah menggunakan data satu pangan guna menghindari kesemerawutan data pangan yang terjadi. Selama ini kementerian dan lembaga kerap memiliki data pangan berbeda hingga akhirnya berujung pada tidak sinkronnya data soal pangan.
 
"Sudah digunakan, sudah dirilis bersama pak Wapres Oktober tahun lalu (2018), bahwa untuk data padi, semuanya harus mengacu pada kerangka sampel area," ujar Suhariyanto saat ditemui di Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019.
 
Dalam penggunaan satu data pangan itu, BPS juga melakukan kerja sama dengan BIG, LAPAN, BNPT, dan Kementerian ATR/BPN. Rencananya BPS akan merilis data pangan pada November 2019.
 
Suhariyanto mengatakan data pangan yang digunakan terjaga keakuratannya. Sebab, pengambilannya dilakukan dengan metode yang tidak mengada-ada. Salah satu pengambilan sampelnya yakni digunakan dengan memotret.
 
"Kalau foto itu kan tidak bisa dibohongi, lokasi di mana, sudah ada titik koordinatnya bulan apa, tanggal, itu sudah ada. Kita pun ketika minta petugas datang ke sana, koordinatnya sudah kita kunci. Artinya kalau dia tidak datang ke lokasi, ya tidak bisa," ungkapnya.
 
Satu data pangan diharapkan mampu menyelaraskan data komoditas pangan antara satu institusi dengan institusi lainnya. Sehingga tak ada lagi klaim sepihak surplus produksi nasional.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif