Ilustrasi (FOTO: AMTI)
Ilustrasi (FOTO: AMTI)

Pemerintah Diminta Berpihak pada Petani Tembakau

Ekonomi cukai tembakau cukai tembakau
Angga Bratadharma • 15 Agustus 2019 07:17
Jakarta: Kontribusi pendapatan negara dari tembakau cukup tinggi, tetapi kontibusi dari pemerintah dalam membantu dan mempermudah para petani tembakau masih belum adil. Hal itu terbukti dengan keluarnya regulasi yang menekan para industri tembakau.
 
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo, di sela sela Road to World Tobacco Growers Day (WTGD) 2019 di Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar). Menurutnya dibandingkan dengan negara lain Indonesia belum adil dalam membantu dan membela petani.
 
"Berkaitan cukai itu masalahnya banyak, misalkan, regulasi yang mengurangi atau menambah tekanan kepada industri hasil tembakau. Dibandingkan dengan negara-negara lain di Indonesia sendiri tidak adil dalam membantu dan membela petani," tuturnya, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis, 15 Agustus 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Budi, biasa ia disapa, mengungkapkan jika pemerintah akan menaikkan culai maka akan timbul atau muncul rokok-rokok ilegal dan yang dirugikan adalah pemerintah. Sementara untuk para petani kenaikan cukai itu tidak masalah, karena para pelaku industri masih membeli tembakau ke petani.
 
Ketua Asosiasi Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Barat Suryana menambahkan Jawa Barat (Jabar) merupakan salah satu provinsi penghasil tembakau nomor satu, dengan kualitasnya. Untuk kalangan dunia, Jawa Barat adalah merupakan daerah penghasil tembakau terbaik nomor lima.
 
Diketahui saat ini lahan untuk perkebunan tembakau di Kabupaten Bandung hanya memiliki lahan seluas 1.524 hektare termasuk Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, tersebut. Di Desa Citaman, setiap hektare dapat menghasilkan 10-14 ton tebakau basah dan dari tembakau basah tersebut dapat menghasilkan sekitar 3-5 ton daun tembakau kering.
 
Untuk keseluruhan Jawa Barat, Suryana mengatakan, bisa menghasilkan 38 ribu ton. Namun sayangnya, hasil tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan tembakau di Jawa Barat yang per tahunnya membutuhkan sekitar 138 ribu ton.
 
"Selama memenuhi kekurangan kebutuhan di Provinsi Jabar, kami mendatangkan dari Jawa Timur (Jatim) sekitar 70 ribu ton tembakau kering dan selebihnya dari Nusa Tenggara Timur (NTB)," pungkas Suryana.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif