Ilustrasi pengguna MRT. Foto: MI/Pius Erlangga.
Ilustrasi pengguna MRT. Foto: MI/Pius Erlangga.

MRT Jakarta Bidik Predikat Operator Kelas Dunia 2023

Ekonomi mrt Proyek MRT
Desi Angriani • 18 November 2019 08:02
Jakarta: PT Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta membidik predikat operator kelas dunia pada 2023. Hal ini seiring dengan tagline MRT yang mengusung konsep perubahan dalam budaya transportasi masyarakat Indonesia.
 
Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta Muhammad Effendi dalam diskusi bertajuk operasi dan pemeliharaan MRT mengaku optimistis dapat meraih predikat tersebut dalam empat tahun mendatang. Pasalnya, fasilitas, sistem dan pelayanan MRT sudah bertaraf internasional layaknya Hong Kong dan Singapura.
 
"2023 kita sudah bisa jadi world class operator. Fasilitas kita sudah world class buatan Jepang. Standar internasional, memenuhi syarat internasional. Kami punya karyawan-karyawan sangat bagus, 80 persen adalah milenial," katanya, Minggu, 17 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk meraih predikat tersebut, MRT melakukan studi banding hingga ke Jepang, Hong Kong, Korea, Singapura, dan Australia. Bahkan menggandeng sejumlah institusi dan operator-operator kereta yang berpengalaman.
 
"Kita benchmark dalam rangka mempersiapkan world class operator, agar kita tahu bagaimana sih world class operator itu sistem yang mereka punya? Bagaimana sih mempersiapkan orang-orangnya, mempersiapkan sistem-sistemnya," papar Effendi.
 
Effendi menambahkan resep pembangunan moda transportasi massal berbasis rel itu terletak pada keamanan dan keselamatan penumpang. Terowongan MRT Jakarta didesain tahan gempa dengan kekuatan hingga magnitudo sembilan, serta dibuat antibanjir.
 
"Hampir enggak ada copet, kebersihan, keselamatan itu kami jaga terus," ungkapnya.
 
Sementara itu, tantangan MRT ke depan bukan dari peningkatan sistem dan pelayanan melainkan membangun budaya kerja yang seragam. Sebab, kebanyakan karyawan MRT berasal dari berbagai latar belakang, budaya dan cara pandang beragam.
 
"Lebih ke buat culture yang seragam kalau sendiri-sendiri sih sudah oke mereka," pungkas dia.
 
Adapun pembangunan konstruksi fase 1 proyek kereta MRT Jakarta dimulai pada 10 Oktober 2013. Ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur DKI Jakarta yang kini menjabat Presiden RI Joko Widodo.
 
Pada koridor satu dibangun jalur kereta sepanjang 16 kilometer yang meliputi 10 kilometer jalur layang dan enam kilometer jalur bawah tanah.
 
Tujuh stasiun layang tersebut adalah Lebak Bulus (lokasi depo), Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja. Depo akan berada di kawasan Stasiun Lebak Bulus. Sedangkan enam stasiun bawah tanah dimulai dari Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran Hotel Indonesia.
 
Pada 2030, MRT menargetkan pembangunan jalur sepanjang 231 kilometer (km). Di antaranya, pembangunan fase II A jurusan Bundaran HI-Kota sepanjang 5,8 kilometer. Dilanjutkan pembangunan fase II B dari Kota-Ancol Barat serta pembangunan MRT fase III Kalideres-Ujung Menteng yang menjadi bagian MRT Barat-Timur Balaraja-Cikarang.
 
Saat ini MRT mengoperasikan 14 kereta dari total 16 kereta. Sebanyak dua kereta disimpan sebagai cadangan. Perjalanan dari stasiun Bundaran HI menuju stasiun Lebak Bulus memakan waktu 30 menit dengan maksimum kecepatan 100 km/h untuk jalan layang dan 80 km/h untuk bawah tanah.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif