Freeport Indonesia menggandeng Yayasan Lontar melestarikan budaya lokal yang merupakan landasan penting dalam upaya pembangunan bangsa. FOTO: Freeport
Freeport Indonesia menggandeng Yayasan Lontar melestarikan budaya lokal yang merupakan landasan penting dalam upaya pembangunan bangsa. FOTO: Freeport

Freeport Ciptakan Pertumbuhan Ekonomi Papua Via Budaya Lokal

Ekonomi freeport
Ade Hapsari Lestarini • 07 Desember 2019 09:50
Jakarta: PT Freeport Indonesia menggandeng Yayasan Lontar melestarikan budaya lokal yang merupakan landasan penting dalam upaya pembangunan bangsa serta memajukan sumber daya manusia.
 
Keberagaman budaya di Indonesia merupakan sumber daya nasional strategis yang mengedepankan kearifan lokal serta semangat gotong royong dan berperan penting dalam pembangunan Indonesia.
 
Oleh karena itu Yayasan Lontar bekerja sama dengan Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe dan PT Freeport Indonesia (PTFI) menyelenggarakan "Pameran dan Lelang Seni Ukir dan Anyaman Suku Kamoro" pada Kamis, 5 Desember 2019, di Darmawangsa Residences.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pameran ini menampilkan seni dan budaya tradisional Suku Kamoro, yaitu Suku yang tinggal di wilayah pesisir Selatan Papua di Kabupaten Mimika dan bertetangga langsung dengan wilayah kerja PTFI. Suku Kamoro dikenal memiliki berbagai kekayaan budaya seperti ritual alam, upacara adat, seni ukir, anyaman, tarian, dan hasil kerajinan.
 
Suku Kamoro dikenal suku yang memiliki kemampuan tinggi dalam hal seni ukir. Berbagai macam bentuk ukiran dipamerkan dalam ajang ini, mulai perisai, dayung, mangkuk sagu, gendang, dan barang-barang sehari-hari lainnya. Mereka juga membuat ukiran khusus yang disebut Wemawe, patung yang berbentuk manusia dan Mbitoro, totem yang dibuat untuk para leluhur.
 
"Seni dan budaya Suku Kamoro menjadi salah satu potensi pengembangan pariwisata di Kabupaten Mimika. Ukiran Kamoro kini memiliki kualitas yang tidak kalah dengan ukiran Asmat," kata Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Mimika Muhammad Thoha, dalan keterangan tertulisnya, Sabtu, 7 Desember 2019.
 
Selain pameran, lelang ukiran juga akan diselenggarakan dalam acara ini. Masing-masing karya seni memiliki keunikan tersendiri, dan memiliki kisah di balik ukiran tersebut.
 
"Hasil lelang yang terkumpul akan dikembalikan kepada pengukirnya, dan sebagian lagi akan digunakan untuk program pengembangan dan pelestarian seni budaya Kamoro," tambah Luluk Intarti Founder Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe.
 
Direktur Eksekutif Yayasan Lontar Yuli Ismartono mengatakan karya seni ukir dan anyam merupakan bentuk penuturan yang dilakukan Suku Kamoro dalam mewariskan budaya dan kearifan lokal ke generasi berikutnya.
 
"Karena itu, kami berupaya melestarikan seni ukir dan anyam ini sebagai akar tradisi Suku Kamoro agar pengetahuannya tidak lenyap begitu saja tanpa bekas. Kami meyakini bahwa kearifan lokal ini bisa berkontribusi besar kepada kekayaan pengetahuan secara global," kata Yuli.
 
Berdasarkan laporan yang dibuat United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) bertajuk "Creative Economy Outlook: Trends in International Trade in Creative Industries", industri kreatif adalah sektor paling dinamis dalam perekonomian dunia dan menyediakan peluang besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa.
 
Bahkan berdasarkan data yang dihimpun, nilai ekonomi produk kreatif mengalami pertumbuhan hingga dua kali lipat antara 2002 sampai dengan 2015 dari USD208 miliar sampai dengan USD509 miliar. Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan pihaknya telah dan akan terus berkomitmen dalam upaya pemberdayaan masyarakat Papua.
 
Khususnya, lanjutnya, masyarakat yang menjadi tetangga terdekat di wilayah operasi. Besar harapan, melalui upaya promosi dan pelestarian seni dan budaya lokal ini dapat memotivasi para pengukir untuk dapat terus berkarya dan menghasilkan karya seni berkualitas tinggi secara berkelanjutan.
 
"Dengan demikian, mereka juga dapat ikut menciptakan pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Kamoro dan Kabupaten Mimika secara lebih luas," tegas Tony Wenas.
 
Menurut Tony karya seni Kamoro menjadi salah satu perekat keberagaman Indonesia, sehingga masyarakat Indonesia dapat lebih mengenal khasanah budaya Indonesia melalui event ini. Adapun pameran Budaya Suku Kamoro dibuka untuk umum selama pada 6 dan 7 Desember 2019.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif