Penjual sarung di Tanah Abang. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Penjual sarung di Tanah Abang. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Pedagang Sarung dan Mukena Keluhkan Penurunan Omzet

Ekonomi tanah abang dunia usaha
Desi Angriani • 04 Juni 2019 16:34
Jakarta: Mayoritas pedagang sarung, sajadah, dan mukena di Pasar Tanah Abang, Jakarta, mengeluhkan penurunan omzet menjelang Idulfitri 1440 H. Rata-rata pedagang mengalami kerugian selama pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut ditutup selama kerusuhan 22 Mei kemarin.
 
Jufri,49, pemilik toko Aneka Citra Pro di Blok A, Tanah Abang, menyebut penjualan di Ramadan ini lebih sepi dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi kerusuhan pada 21-22 Mei kemarin membuat Jufri terpaksa menutup tokonya.
 
Selain penjualan sarung, sajadah dan sorban yang sepi dibandingkan Ramadan tahun sebelumnya, Jufri juga mengalami kerugian puluhan juta saat terjadi kerusuhan tersebut. Ia bilang kerusuhan bertepatan dengan momen tingginya permintaan barang dari berbagai daerah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Aksi 22 Mei kemarin turun drastis dan semua mengeluh, tutup selama dua hari. Itu waktu lagi ramai-ramainya pengunjung. Satu toko bisa mengalami kerugian Rp20 juta," ungkapnya saat ditemui Medcom.id di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa, 4 Juni 2019.
 
Pedagang Sarung dan Mukena Keluhkan Penurunan Omzet
 
Ia menyebut bisa meraih untung Rp5 juta per hari pada Ramadan tahun lalu. Namun, akibat sepinya permintaan, Jufri hanya memperoleh omzet sekitar Rp3 juta sehari. Bahkan, ia tidak menambah stok barang lantaran permintaan baik eceran maupun grosiran dari berbagai wilayah juga mengalami penurunan.
 
Namun demikian, Jufri tetap menjual barang dagangannya dengan harga bersahabat mulai dari Rp15 ribu hingga Rp300 Ribu. Selama Ramadan katanya, sarung menjadi barang yang paling laris, sedangkan setelah Lebaran biasanya konsumen mengincar sajadah.
 
"Yang paling laris sarung untuk Ramadan dan sajadah setelah Lebaran. Sajadah dijual dari Rp15 ribu sampai Rp300 ribu, peci Rp20 ribu dan sarung Rp25 ribu. Tahun lalu Rp5 juta, sekarang Rp3 juta per hari. Stok ini harus dikosongkan sebelum Lebaran, jadi belanja stok ditahan dulu," ungkap dia.
 
Serupa, pemilik toko mukena Tsabita Fashion, Blok A Tanah Abang, Mansyur, mengungkapkan penurunan omzet mukena hampir lima puluh persen.Tahun lalu, ia bisa meraih untung hingga Rp50 juta. Kini rata-rata toko yang menjual mukena hanya meraup penualan tertinggi sebesar Rp25 juta dan terendah Rp10 juta.
 
"Sekarang sepi, turunnya bisa separuh, rata-rata Rp10 juta per hari, kalau penjualan tertinggi Rp25 juta. Tahun lalu bisa Rp50 juta tapi itu enggak merata," katanya kepada Medcom.id.
 
Terkait kerusuhan 22 Mei kemarin, pria asal Sumatera Barat tersebut juga mengalami kerugian hingga Rp20 juta. Selain karena unjuk rasa, penurunan daya beli masyarakat di daerah juga mengakibatkan sepinya permintaan.
 
"Aksi 22 mei kemarin tutup 2 hari ya bisa Rp20 juta kerugiannya, rata-rata mukena di jual paling murah Rp25 ribu, paling mahal Rp350 ribu tergantung model dan bahan," tutur Mansyur.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif