Ciputra. Foto: dok Metro TV.
Ciputra. Foto: dok Metro TV.

Krisis Moneter Antar Ciputra Jadi Orang Terkaya di Indonesia

Ekonomi Ciputra Tutup Usia
Ade Hapsari Lestarini • 27 November 2019 12:37
Jakarta: Era Orde Baru merupakan masa kejayaan bisnis mendiang Ir.Ciputra. Tiga lini bisnis raksasanya berkembang pesat, yakni Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group.
 
Mengutip video wawancaranya di Metro Xinwen, Rabu, 27 November 2019, Ciputra menceritakan bisnis yang ia bangun seketika dihadapkan pada ujian ketika krisis moneter 1998 berlangsung.
 
Kondisi pertumbuhan ekonomi saat itu merosot hingga minus 13 persen, dan rupiah terdepresiasi sebesar 614,8 persen dalam satu tahun. Hal ini tentu sulit terlupakan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ciputra pun menggambarkan fase krisis tersebut merupakan pukulan terbesar yang dipikul selama meniti karier sebagai pengusaha.
 
"Ada orang lain di luar negeri, sampai sekarang masih buron, tapi saya buka semua, clean dan clear, bersih dan jernih. Saya go public waktu itu, sesudah krisis global, saham saya serahkan ke mereka, bayar dengan saham," jelas Ciputra.
 
Namun dengan kegigihan, keuletan, dan sifat pantang menyerah yang dimilikinya, krisis ekonomi tersebut malah mengantarnya menjadi orang terkaya ke-13 di Indonesia pada versi Majalah Forbes. Harta kekayaan taipan ini pun mencapai USD1,4 miliar atau setara Rp20,8 triliun.

Didukung Bung Karno

Ciputra berlatar belakang dari keluarga sederhana di daerah Parigi, Sulawesi tengah. Dirinya sukses memulai karier dari bawah dengan bisnis tanpa modal di bidang properti.
 
Modal utamanya saat itu berupa konsep yang menjadi proyek landmark di Jakarta. Bahkan konsep ini didukung oleh Bung Karno.
 
"Saya ingin mengubah sistem ruko, dulu ruko hanya untuk mal saja, wah dia (Bung Karno) terenyuh, dia senang, dia juga mengajukan beberapa pertanyaan, oke saya mau bikin janji dengan pak presiden, saya menghadap Bung Karno, kita bikin presentasi, Bung Karno lihat mengesankan, diajukan beberapa pertanyaan, saya jawab oke laksanakan, jadi saya susun rencana lagi, bagaimana pelaksanaannya, saya bilang kita harus cari partner, pengusaha," bebernya.
 
Meski baru selesai kuliah sudah memiliki karier yang cemerlang, namun kesuksesan yang diraih tidak datang begitu saja. Sejak kecil, pria yang kerap disapa Pak Ci ini sudah merasakan perjuangan yang berat.
 
"Waktu umur 12 tahun ayah saya meninggal, meninggal tidak dengan wajar, ditangkap oleh penguasa waktu itu, dimasukkan ke penjara, dan sampai dia meninggal saya enggak tahu di mana jenazahnya. Waktu itu saya putuskan bahwa untuk mengatasi kemiskinan, saya harus jadi arsitek," kata dia.
 
Sejak saat itu Ciputra kecil harus membantu ibunya untuk berjualan kue, dan harus berburu untuk mendapatkan makanan yang bergizi bagi keluarga. Meski demikian dia tetap semangat bersekolah dengan berjalan kaki sejauh tujuh kilometer (km) tanpa menggunakan alas kaki setiap hari, karena tidak pernah lupa akan impiannya menjadi arsitek.
 
"Saya masuk ITB, orangtua enggak sanggup, saya kerja praktek dapat uang di biro arsitek, kontraktor. Tetapi sebelum saya tamat, saya bilang saya tidak mau jadi arsitek. Saya mau jadi developer, karena arsitek harus mencari pekerjaan yang sudah diciptakan orang lain, tapi kalau developer saya yang menciptakan pekerjaan," jelasnya.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif