Ilustrasi ayam broiler. FOTO: dok MI.
Ilustrasi ayam broiler. FOTO: dok MI.

Peternak Broiler Tuntut Kestabilan Harga Ayam Hidup

Ekonomi peternakan harga ayam
Nia Deviyana • 26 September 2019 12:49
Jakarta: Paguyuban Peternak Ayam Nasional menuntut kenaikan harga ayam hidup (live bird/LB) dan menjaga kestabilan harganya di atas Harga Pokok Produksi (HPP) peternak unggas rakyat mandiri sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 96 Tahun 2018.
 
Perwakilan Paguyuban Peternak Ayam, Parjuni, menuturkan, setidaknya ada dua kali kejadian pada 2019 yakni terjadi penurunan harga LB di tingkat peternak.
 
"Yang petama di Juni lalu dan mencapai titik paling terendah selama dua dekadeterakhir, harga ayam hidup menyentuh harga Rp5 ribu per kilogram di wilayah Jawa Tengah yang pada akhirnya ikut menekan harga di wilayah lain seperti Jawa Barat mencapai Rp8 ribu per kilogram," ujar Parjuni melalui keterangan resminya, Kamis, 26 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Harga tersebut, kata dia, sangat jauh dari HPP peternak yang berafa di level Rp18 ribu hingga Rp18.500 per kilogramnya.
 
Adapun anjloknya harga LB kedua kalinya terjadi pada akhir Agustus 2019, yang mana harganya menyentuh Rp8 ribu per kilogram. Saat itu, kata Parjuni, persoalan harga bisa diatasi melalui aksi demo damai peternak rakyat mandiri.
 
Parjuni melanjutkan, hingga 5 September lalu harga LB membaik menuju HPP peternak. Namun di hari ketujuh, pergerakan harga kembali stagnan danmenunjukkan tren turun, dan cenderung kembali terkoreksi menjauh dari HPP peternak.
 
"Dari indikasi fluktuatif ini mengkonfirmasi kepada stakeholder perunggasan nasional bahwa harga LB ternyata bisa dikawal menuju kestabilan harga. Pemerintah dituntut menjadi wasit yang tegas untukmengatur supply dan menegakkan regulasi baik yang berkaitan dengan produksi ataupun kewajiban lainnya yang berhubungan dengan keseimbangan supply demand perunggasan nasional," tuturnya.
 
Anjloknya harga secara terus menerus pada perunggasan nasional, dikatakan Parjuni, menyebabkan peternak unggas mandiri mengalami kerugian. Selain menuntut kenaikan harga LB, Parjuni juga meminta pemerintah melarang perusahaan integrasi dan afiliasinya menjual ayam hidup ke pasar tradisional.
 
"Perusahaan integrasi dan afiliasinya, wajib memotong 100 persen ayam produksinya di Rumah Potong Ayam (RPA) dan menjual ke modern market. Bagi perusahaan yang tidak dapat melakukan wajib diberikan sanksi berupa penutupan usaha," tuturnya.
 
Di samping itu, perusahaan dan peternak yang memiliki populasi chick in 300 ribu per minggu, wajib memiliki RPA dengan kapasitas potong minimal 50 persen dari produksi.
 
"Kami juga minta perlindungan dan segmentasi pasar ayam segar hanya untuk peternak unggas rakyat mandiri. Sementara perusahaan integrasi wajib melakukan penjualan dan pengembangan pasar ekspor," tukasnya.
 
Tak hanya itu, produsen bibit ayam (DOC) diminta menjual minimal 60 persen DOC nya ke peternak unggas rakyat mandiri dengan harga yang wajar dan kualitas baik.
 
"Serta memastikan ketersedian jagung dengan harga wajar, sehingga peternak unggas rakyat mandiri menikmati harga pakan yang terjangkau dan wajar dengan kualitas yang baik," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif