Pemudik menggunakan fasilitas mudik gratis yang disediakan perusahaan-perusahaan. (FOTO: Ilustrasi Medcom.id/Annisa Ayu)
Pemudik menggunakan fasilitas mudik gratis yang disediakan perusahaan-perusahaan. (FOTO: Ilustrasi Medcom.id/Annisa Ayu)

Mudik dan Dilema Mahalnya Ongkos Transportasi

Ekonomi transportasi Mudik Lebaran 2019
Desi Angriani • 29 Mei 2019 15:22
Jakarta: Mudik sudah menjadi tradisi tahunan bagi masyarakat Indonesia. Para perantau biasanya pulang ke kampung halaman untuk berkumpul merayakan Idulfitri bersama sanak keluarga.
 
Karena itu, tak sedikit pemudik yang memesan tiket pesawat, tiket kereta, kapal hingga bus dari jauh-jauh hari. Bahkan ada juga yang berkendara dengan mobil pribadi.
 
Namun, tradisi mudik kali ini dirundung biaya transportasi yang semakin mahal. Khususnya tarif tiket pesawat yang tercatat melambung tinggi sejak awal tahun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Masyarakat terpekik dan melakukan protes akibat kenaikan tarif tiket penerbangan yang mencapai 100 persen atau naik dua kali lipat. Apalagi tarif mahal tersebut disertai dengan tingginya permintaan untuk mudik lebaran. Barang tentu harga tiket akan semakin mahal lantaran mencapai tarif batas atasnya.
 
Mutia, 28, karyawan swasta yang merantau di Ibu Kota ini mengaku terpaksa merogoh kocek lebih banyak demi pulang ke Padang, Sumatera Barat. Ia memesan tiket penerbangan maskapai berbiaya murah atau low-cost carrier (LCC) seharga Rp2,2 juta untuk keberangkatan. Jika dibandingkan tahun lalu, Mutia hanya mengeluarkan ongkos sebesar Rp1,4 juta.
 
Meski begitu, ia agak lega tarif tiket pesawat mulai turun setelah pemerintah meminta maskapai untuk mengerek harga menjadi lebih ekonomis. Ia pun bisa membeli tiket dari Padang menuju Jakarta seharga Rp1,6 juta.
 
"Tiketnya mahal sekali, kalau keberangkatan saya beli tiketnya Rp2,2 juta. Kalau pulang saya dapat lebih murah Rp1,6 juta. Semua tiket sudah ludes jadi saya tidak punya pilihan lain," kata Mutia saat dihubungi Medcom.id, di Jakarta, Rabu, 29 Mei 2019.
 
Saat ini, hampir semua rute penerbangan domestik sudah mengalami penurunan tarif, di antaranya rute Jakarta-Denpasar, Jakarta-Yogyakarta, Bandung-Denpasar, dan Jakarta-Surabaya. Penurunan harga terjadi untuk rute domestik lainnya seperti Jakarta-Padang, Jakarta Pontianak, dan Jakarta-Jayapura.
 
Sementara itu, pemudik yang menggunakan bus juga merasakan kenaikan harga tiket menjelang Lebaran. Yanti, 32, mengaku membeli tiket bus dari Jakarta menuju Purwodadi, Jawa Tengah sebesar Rp270 ribu untuk kelas ekonomi.
 
Harga tersebut naik dua kali lipat dibandingkan hari biasa yang sebesar Rp120 ribu. Begitu pula dengan tiket bus eksekutif naik dari Rp200 ribu menjadi Rp350 ribu menjelang Lebaran.
 
Menurutnya, harga tiket bus menjadi mahal lantaran saat ini trayek bus ke daerahnya sudah menjajal tol Trans Jawa. Sebelum hadirnya Trans Jawa, waktu tempuh Jakarta-Purwodadi bisa mencapai 12 jam, dan saat ini berkurang menjadi 10 jam.
 
Bagi Yanti, lama waktu yang dipangkas cukup seimbang dengan biaya tiket yang dikeluarkan. "Biasa saja enggak terlalu mahal untuk mudik. Yang penting sekarang jadi lebih cepat karena masuk tol," imbuh dia kepada Medcom.id.
 
Adapun kenaikan harga tiket kereta dinilai cukup stabil. Mei, 28, perantau asal Jakarta ini membeli tiket kereta kelas ekonomi rute Gambir-Jatibarang seharga Rp140 ribu.
 
Mei mengaku harga tiket kereta yang mendapat subsidi Public Service Obligation (PSO) tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kecuali harga tiket kelas eksekutif. Tahun lalu, Mei memperoleh harga Rp235 ribu untuk rute yang sama ke kampungnya di Indramayu.
 
"Tahun lalu sama tahun ini sama saja sih kalau harga. Kalau PSO tapi subsidinya dicabut ya kita ikuti aturan KAI saja," ungkap Mei kepada Medcom.id.
 
Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai kenaikan tarif transportasi saat mudik Lebaran wajar. Sebab setiap moda memiliki tarif batas atas dan tarif batas bawah khusus bagi sektor privat. Sementara kelas ekonomi mendapatkan subsidi dari pemerintah meski jumlahnya terbatas.
 
"Jadi pemerintah mengeluarkan tarif batas atas dan bawah untuk kelas eksekutif. Kalau yang kelas ekonomi mereka mendapatkan subsidi. Bahkan kalau mau gratis ada," ungkapnya saat dihubungi Medcom.id.
 
Harga keekonomian transportasi itu, lanjutnya, bergantung pada masing-masing daerah. Tarif pesawat di luar Jawa misalnya antarwilayah Papua mendapatkan subsidi tiap tahun dari pemerintah. Sebab, wilayah di ujung Timur Indonesia itu masih mengandalkan transportasi udara untuk menjangkau wilayah lainnya. Di samping itu, tarif kereta api juga memperoleh subsidi, khusus bagi PSO.
 
"Jadi keekonomian itu masing-masing daerah beda-beda. Survei dilakukan tiap tahun, misal kereta api. Jadi subsidi itu hasil survei kok bukan asal hitung," pungkas dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif