Illustrasi. MI/Adam Dwi.
Illustrasi. MI/Adam Dwi.

Pertamina Bisa Bangun Fasilitas Pengisian Daya Kendaraan Listrik

Ekonomi dewan energi nasional
Suci Sedya Utami • 15 Agustus 2019 16:31
Jakarta: Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengimbau PT Pertamina (Persero) agar tidak perlu cemas dengan kehadiran kendaraan listrik.
 
Djoko mengatakan Pertamina bisa melebarkan sayap bisnisnya untuk menyediakan fasilitas pengisian daya listrik atau stasiun pengisian listrik umum (SPLU). Sehingga bisnis Pertamina di hilir tetap berjalan.
 
Djoko bilang fasilitas pengisian daya tersebut bisa dibangun di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina. Saat ini Pertamina juga telah mendirikan fasilitas tersebut di SPBU Kuningan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bisa-bisa saja, kan kita harapkan di SPBU-SPBU itu ada infrastruktur untuk nyolok, ada untuk charging," kata Djoko di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Kamis, 15 Agustus 2019.
 
Saat ini, kata Djoko, fasilitas pengisian masih minim sehingga perlu diperbanyak seiring dengan pengembangan kendaraan listrik. Apalagi pemerintah serius untuk mendorong pengembangan tersebut dengan mengeluarkan aturan khusus.
 
Selain itu, kata Djoko, kendaraan listrik memang didorong untuk mengurangi konsumsi BBM yang selama ini menjadi penyebab defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Serta untuk mengurangi polusi yang diakibatkan oleh gas buang kendaraan yang menggunakan energi fosil.
 
"Kendaraan listrik itu top mengurangi konsumsi BBM, energi fosil itu sangat berpolusi, dengan adanya kendaraan listrik lingkungan bersih hidup sehat umur panjang. Kita dukung," ujar dia.
 
Sebelumnya Pertamina mengaku ada kekhawatiran terkait kemajuan kendaraan listrik nantinya akan berpengaruh pada bisnis bahan bakar minyak (BBM). Pertamina cemas konsumen akan beralih pada bahan bakar listrik.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid dalam coffee morning Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Mas'ud mengatakan apalagi saat ini pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang kendaraan listrik.
 
"Yang lebih gawat dari itu adalah mobil listrik, kendaraan listrik karena itulah main customer kami," kata Mas'ud di BPH Migas, Jakarta Selatan, Kamis, 15 Agustus 2019.
 
Mas'ud mencontohkan di Tiongkok yang perkembangan kendaraan listriknya luar biasa dahsyat. Dia bilang karena pertumbuhan kendaraan listrik yang pesat di negeri Tirai Bambu tersebut membuat penjualan minyak di sana tidak tumbuh karena marketnya dimakan oleh kendaraan listrik
 
"Ini di Tiongkok ada sekitar 2,7 juta kendaraan listrik hari ini dan trennya terus naik dari 4,7 juta dari kendaraan listrik di dunia Tiongkok sekitar 2,7 juta. Tiongkok dengan Indonesia enggak jauh," ujar Mas'ud.
 
Mas'ud mengatakan perkembangan energi listrik untuk kendaraan menjadi real kompetitor bagi bisnis minyak ke depannya. Oleh karena itu Pertamina sedang berpikir agar substitusi energi tersebut tidak membuat bisnis di subenergi lainnya mati. Termasuk juga untuk masuk dalam bisnis mobil listrik terutama penyediaan fasilitas pengisian daya listrik.
 
"Dalam situasi dinamika disrupsi seperti ini, Pertamina tetap waspada," jelas Mas'ud
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif