Ilustrasi. FOTO: dok MI.
Ilustrasi. FOTO: dok MI.

Berkaca dari Penyembuhan Bank Bumiputera

Ekonomi bumiputera
Desi Angriani • 13 September 2019 15:43
Jakarta: Penyelamatan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera bisa berkaca pada penyembuhan Bank Bumiputera yang kini bernama MNC Bank. Puluhan tahun lalu, Bank Bumiputera pernah sekarat.
 
Kondisinya cukup kronis. Kredit macet membengkak sehingga bank mesti menyisihkan lebih banyak dana pencadangan. Sementara itu, pendapatan bank terlalu kecil, tidak cukup dalam membiayai ongkos operasional yang mahal.
 
Kerugian terus menggerus kapital. Hal itu membuat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio atau CAR) menjadi minus. Secara teknis, bank sudah ambruk lantaran tidak cukup uang untuk menambal kredit bermasalah dan menyangga risiko. Sejak 1995, kerugian Bank Bumiputera pun semakin dalam hingga mencapai kisaran Rp200 juta per bulan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Begitu tertulis dalam buku biografi Agus Martowardojo berjudul Pembawa Perubahan. Buku tersebut diluncurkan pada 2 September 2019 lalu.
 
"Situasinya gawat, Bank Indonesia sebagai pengawas bank sudah memberikan ultimatum. Jika dalam beberapa bulan tidak membaik, bank akan ditutup," kata Agus yang ditugasi memimpin penyehatan Bumiputera kala itu.
 
Agus bilang penyehatan Bumiputera berlangsung cepat. Ia memberi target tujuh bulan untuk membalik bank sekarat menjadi bank sehat. Efesiensi digencarkan dan berbagai fasilitas dihapus.
 
Sejumlah pos biaya yang bukan prioritas dikurangi. Katanya, tak ada lagi anggaran dan waktu untuk bersenang-senang bagi jajaran direksi dan karyawan.
 
Sayangnya, upaya Agus tersebut membuat 70 persen general manager dan kepala cabang mengundurkan diri. Mereka tidak tahan bekerja siang-malam tanpa fasilitas yang memadai.
 
"Saya minta komitmen mereka untuk menyehatkan bank dengan kerja cerdas dan kerja keras," ungkap dia.
 
Sebagai pemilik, AJB Bumiputera pada 1912 pernah mencoba menyelamatkan banknya dengan menjaminkan deposito dan gedung miliknya. Tapi kinerja bank terus merosot, jika dibiarkan AJB bisa ikut terbenam.
 
Sementara itu, bank sentral menolak memberikan bantuan likuiditas. BI hanya setuju meringankan beban dengan cara mengizinkan Bumiputera merestrukturisasi dan memindahkan kredit yang bermasalah ke perusahaan khusus. Syaratnya, dalam tempo dua tahun portofolio bermasalah tersebut harus sudah diperbaiki dan dilapis dengan dana pencadangan.
 
Agus agak pesimistis lantaran waktu yang diberikan singkat. Katanya, mustahil menyulap portofolio buruk menjadi bagus dalam tempo sesingkat itu. Komisaris dan direksi akhirnya sepakat mencari jalan pintas dengan melobi nasabah atau koneksi lama.
 
"Tolong sebagian dana dipindahkan ke Bumiputera, atau ambil kredit ke Bumiputera. Kami akan kasih persyaratan dan bunga bagus," ungkapnya.
 
Ia juga merombak pegawai, dan mengisi kekosongan kursi jajaran direksi dengan para kolega lama dari Bank Niaga dan Danamon. Efesiensi dan perubahan manajemen bank itu membuat aset Bumiputera membaik dengan masuknya debitur berkualitas.
 
Kredit macet yang tidak bisa diperbaiki terpaksa dihapus-buku (write-off). Lalu, juga memindahkan pengelolaan data center Bumiputera ke pihak ketiga. Meski tidak lazim, upaya itu bisa mengurangi belanja modal yang besar.
 
Terbukti, laporan keuangan triwulan ketiga Bank Bumiputera menunjukkan rapor biru dengan mencetak laba Rp2,62 miliar.
 
Agus masih belum puas. Baginya Bank Bumiputera perlu tambahan modal. Ia melobi pemerintah agar bisa menggandeng PT Danareksa.
 
Bumiputera kemudian mendapat injeksi Rp100 miliar sehingga modalnya menjadi Rp150 miliar. Bahkan rasio kecukupan modal melonjak menjadi dua kali lipat dari 15,7 persen menjadi 26,9 persen.
 
Target Agus pun tercapai, Bumiputera menjadi bank devisa dengan total aset Rp773,81 miliar, atau dua kali lipat dari aset pada 1995. Beruntung, Bank Bumiputera lolos dari krisis monter dan tidak perlu mendapat penyelamatan dari 66 bank yang sekarat.
 
"Pengelolaan yang prudent membawa bank Bumiputera lolos dari badai krisis," pungkasnya.
 
Langkah-langkah tersebut mungkin bisa digunakan untuk menyelamatkan Asuransi Bumiputera dari masalah keuangan. Perusahaan yang berdiri sejak 1912 ini membutuhkan suntikan dana segar triliunan rupiah dalam waktu cepat. Bila terlambat, polis yang dimiliki 6,7 juta nasabah terancam hangus.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif