Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: Kemenperin
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: Kemenperin

Pabrik Karbon Hitam di Cilegon Siap Tekan Impor

Ekonomi impor kementerian perindustrian
Ilham wibowo • 22 November 2019 08:53
Cilegon: Investasi yang dikucurkan dalam pengembangan fasilitas produksi karbon hitam (carbon black) di Cilegon Banten dipastikan bakal mengurangi kebutuhan produk impor di Tanah Air. Langkah ini mendapat dukungan pemerintah dalam upaya mengurangi defisit neraca perdagangan dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
 
"Nah, ini yang sekarang dilakukan oleh Cabot, mereka akan menambah produksi black carbon yang diproduksi dari fase pertama perkembangan industrinya," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, melalui keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat, 22 November 2019.
 
Pernyataan Agus disampaikan saat meresmikan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pabrik PT Cabot Asia Pacific South (PT CAPS) di Cilegon, Banten. Ia berkomitmen terus mendorong tumbuhnya industri yang menghasilkan produk substitusi impor.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini, PT Cabot Indonesia (PT CI) merupakan satu-satunya produsen karbon hitam di dalam negeri dengan total kapasitas produksi 90 ribu ton per tahun. Korporasi ini akan menambah jumlah investasinya di Tanah Air sebesar Rp1,4 triliun guna mendongkrak produksi karbon hitam sebanyak 80 ribu-90 ribu ton per tahun dan masterbatch sekitar 20 ribu ton per tahun.
 
"Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada PT Cabot Indonesia yang akan membangun pabrik carbon black dan masterbatch di Indonesia. Kami memberi tantangan kepada Cabot Indonesia agar bisa operasional pada awal 2021," tuturnya.
 
Kebutuhan serat karbon hitam di industri dalam negeri saat ini masih cukup banyak. Terlebih sebanyak 70 persen di antaranya masih mengandalkan pasokan dari luar negeri. Berdasarkan data yang diterima Kementerian Perindustrian, kebutuhan dari carbon black di dalam negeri sebesar 230 ribu ton per tahun.
 
"Dan 70 persen dari kebutuhan tersebut dari berbagai macam negara, termasuk Tiongkok dan India,” ungkapnya.
 
Peningkatan kapasitas dari proyek ini diyakini menghasilkan karbon hitam lokal berkualitas tinggi yang akan digunakan untuk memenuhi permintaan konsumen Indonesia dan Asia Tenggara. Pasar di kawasan ini diproyeksikan meningkat sekitar 4-5 persen setiap tahunnya.
 
Adapun karbon hitam biasanya digunakan sebagai penguat pada produk ban dan produk karet lainnya. Selain itu, karbon hitam digunakan sebagai pigmen warna untuk plastik, cat dan tinta. Agus berharap, proses pembangunan pabrik PT CAPS dapat berjalan lancar. Ia mengimbau agar proyek ini mengutamakan pada penggunaan komponen dan tenaga kerja lokal.
 
Dengan beroperasinya PT CAPS, Indonesia akan mampu melakukan substitusi impor karbon hitam sebesar 90 ribu ton per tahun dengan nilai Rp1,5 triliun per tahun. "Memang saat ini kami sedang mendorong industri yang menghasilkan substitusi impor, seperti yang dilakukan oleh Cabot. Selain itu, kami memacu industri yang berorientasi ekspor," tukasnya.
 
Senior Vice President sekaligus President of Reinforcement Materials Cabot Corporation, Bart Kalkstein, mengatakan pihaknya berinvestasi sebesar USD100 juta untuk meningkatkan kapasitas produksi black carbon.
 
"Sebagai produsen carbon black terbesar di dunia, kami memiliki posisi khusus untuk memperluas langkah kami secara global untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen di seluruh wilayah di dunia," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif