Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kiri) usai meresmikan BWM Bangkit Nusantara di Pondok Pesantren Pondok Roudlatut Thalibin. Medcom/Eko Nordiansyah.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kiri) usai meresmikan BWM Bangkit Nusantara di Pondok Pesantren Pondok Roudlatut Thalibin. Medcom/Eko Nordiansyah.

Pembiayaan Bank Wakaf Mikro Capai Rp33,92 Miliar

Ekonomi bank wakaf mikro
Husen Miftahudin • 09 Januari 2020 20:36
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga akhir 2019 telah berdiri sebanyak 56 Bank Wakaf Mikro di seluruh Indonesia dengan kumulatif penerima manfaat sebanyak 25.631 nasabah dan total pembiayaan Rp33,92 miliar atau naik 179,8 persen secara year to date (ytd).
 
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, selain sebagai pengawas sektor jasa keuangan, OJK harus memberikan manfaat bagi masyarakat melalui penyediaan akses keuangan. OJK juga berkepentingan mendorong literasi dan inklusi, serta membuka akses keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi masyarakat mikro.
 
"Oleh karena itu, OJK menginisiasi program Bank Wakaf Mikro untuk memudahkan akses pembiayaan bagi UMKM, mulai dari usaha kecil yang ada baik di dalam maupun di sekitar pondok pesantren di Indonesia,” kata Wimboh saat meresmikan BWM Bangkit Nusantara di Pondok Pesantren Pondok Roudlatut Thalibin, Rembang Jawa Tengah di Jakarta, Kamis, 9 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Program BWM merupakan sinergi antara OJK, para donatur, LAZNAS, dan tokoh masyarakat setempat, pimpinan Pondok Pesantren atau lembaga pendidikan tradisional. Program BWM juga merupakan sarana bagi Pondok Pesantren mengoptimalkan peran dalam dakwah ekonomi dengan menyediakan pendampingan usaha bagi masyarakat kecil di sekitar Pondok Pesantren.
 
"Skema dalam Bank Wakaf Mikro dirancang sesuai kebutuhan dan kemampuan masyarakat kecil, bukan untuk tumbuh menjadi besar menyaingi lembaga keuangan formal lainnya," jelas dia.
 
Pembiayaan diberikan tanpa bunga, hanya membayar biaya administrasi sebesar tiga persen per tahun dan nasabah tidak perlu memberikan agunan/ijin usaha, cukup hanya membawa KK/ KTP serta mengikuti Pelatihan Wajib Kelompok (PWK) selama lima hari berturut-turut. Kelompok nasabah yang lulus PWK akan tergabung dalam satu Kelompok Usaha Masyarakat sekitar Pesantren Indonesia (KUMPI).
 
Dengan pembiayaan yang murah dan mudah ini, para nasabah hanya memiliki kewajiban untuk mengangsur sekitar Rp20 ribu per minggunya. Calon nasabah dan nasabah juga tidak akan dilepas begitu saja, namun ada pemberdayaan dan pendampingan, baik pengembangan usaha kecil, manajemen ekonomi rumah tangga maupun peningkatan kapasitas dan ruhiyah seluruh nasabah BWM melalui Halaqoh Mingguan (HALMI).
 
Dalam peresmian BWM kali, Bank Syariah Mandiri berkomitmen menyediakan ekosistem usaha mikro bagi nasabah BWM, mulai dari pendampingan usaha, pengepakan produk, pemasaran produk ataupun memfasilitasi keberadaan pembeli yang menjadi opsi penampung produk-produk nasabah BWM.
 
"OJK mendorong pengurus dan pengelola BWM mau menjemput bola dalam menjaring nasabah-nasabah potensial di lingkungan sekitar pondok pesantren dan mulai memanfaatkan teknologi seperti e-commerce untuk memasarkan produk, meningkatkan kapasitas pelayanan, maupun mengembangkan usaha BWM," pungkasnya.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif