Pemerintah Diminta Terbitkan Regulasi Produk Tembakau Alternatif

Husen Miftahudin 26 Oktober 2018 20:56 WIB
rokok elektrik
Pemerintah Diminta Terbitkan Regulasi Produk Tembakau Alternatif
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Jakarta: Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) meminta pemerintah segera merumuskan regulasi produk tembakau alternatif, dalam hal ini rokok elektrik atau vape. Regulasi tersebut diminta disesuaikan dengan tingkat risiko dan profil produk.

"Jika secara ilmiah produk ini terbukti memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok, maka sudah sepatutnya aturan pemerintah disesuaikan," kata Ketua APVI Aryo Andrianto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat, 26 Oktober 2018.

Menurut Aryo, regulasi produk tembakau alternatif untuk vape harus mengatur soal pembatasan usia bagi pembeli. Selain itu, beleid itu juga nantinya harus mencakup edukasi yang akurat terkait produk, penjualan, iklan, promosi dan sponsorship, sekaligus ketentuan terhadap tempat-tempat yang dapat digunakan untuk mengonsumsi.

"Upaya pencegahan atas penggunaan produk tembakau alternatif untuk remaja di bawah umur harus bersama-sama dilakukan oleh seluruh pihak yang dilindungi oleh aturan komprehensif. Pengusaha juga akan merasa lebih terjamin dan leluasa dalam menjalankan usahanya," bebernya.

Di Indonesia, aturan rokok elektrik atau vape masih sebatas pengenaan atas tarif cukai hasil tembakau. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146 Tahun 2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.

Aryo mengaku belum ada kebijakan yang secara khusus batasan umur penggunaan rokok elektrik di Indonesia. Namun beberapa penjual produk rokok elektrik di Indonesia sudah berinisiatif melakukan pencegahan penggunaan produk tersebut pada remaja di bawah umur.

"Dari APVI sudah membekali para pengusaha vape yang berada di bawah naungannya agar menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait penjualan produk vape. Salah satunya isinya, anggota APVI dilarang menjual produk kepada remaja di bawah umur," ungkap dia.

Berkaca pada kebijakan di Amerika Serikat (AS), hukum federal Negeri Paman Sam tersebut melarang praktik penjualan rokok elektrik pada remaja di bawah usia 18 tahun. Pasalnya, berdasarkan pada temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau US Food and Drug Administration (FDA), penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja AS telah mencapai tahap epidemi. Sebanyak 1,7 juta pelajar SMA dan 500 ribu pelajar SMP mengonsumsi rokok elektrik.

"Seharusnya tidak ada remaja di bawah umur yang memakai produk tembakau alternatif (rokok elektrik), maka perlu ada aturan dalam kerangka regulasi yang sesuai juga tepat. Sampai saat ini, kami berpendapat bahwa rokok elektrik sebagai alternatif bagi perokok dewasa untuk menghentikan kebiasaan mereka dengan beralih ke produk tembakau yang berpotensi memiliki tingkat risiko lebih rendah," jelas Komisaris FDA Scott Gottlieb.

Selain AS, Inggris juga telah mengatur penggunaan produk rokok elektrik, termasuk soal batasan umur. Pun Selandia Baru yang telah mengatur penggunaan produk rokok elektrik seperti tidak boleh dijual dalam kemasan polos, hanya boleh dikonsumsi oleh konsumen yang berusia 18 tahun ke atas, serta menerapkan regulasi khusus terkait iklan rokok elektrik.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id