Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Butuh Pemikiran Strategis Hadapi Revolusi Industri 4.0

Ekonomi Revolusi Industri 4.0
Angga Bratadharma • 10 Desember 2018 15:29
Jakarta: Indonesia membutuhkan pemikiran-pemikiran strategis dalam menyongsong revolusi industri 4.0. Meski demikian, tantangannya adalah bagaimana menciptakan generasi yang berkualitas serta mampu membaca sejumlah data statistik serta kuat dalam melakukan pendalaman ilmu pengetahuan.
 
"Kita butuh pemikiran-pemikiran strategis di revolusi industri 4.0," kata Dekan FEB Universitas Al Azhar Kuncoro Hadi, dalam Seminar Indonesia Shariah Economic Outlook bertajuk "Peluang Bisnis Syarah di Tahun Politik 2019", di Universitas Al Azhar, Jakarta, Senin, 10 Desember 2018.
 
Pada masa revolusi industri 1.0, lanjutnya, perkembangan dari tenaga kasar ke mesin uap. Sedangkan di revolusi industri 2.0 adanya peralihan ke listrik dan karbon. Kemudian di revolusi industri 3.0 masuknya era otomatisasi karena adanya perkembangan teknologi informasi yakni internet.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nah, di revolusi industri 4.0 itu memanfaatkan semuanya. Kalau ada masalah jarak sekarang ada SMS. Kalau ada persoalan waktu dan ruang maka dimanfaatkan hanya neno second. Itu di revolusi industri 4.0. Tantangannya adalah generasi di sini harus kuat literasi," ungkap Kuncoro Hadi.
 
Menurut Kuncoro Hadi kemampuan membaca bagi generasi sekarang ini terutama generasi milenial sangat penting. Jika digenapkan ada 80 juta kaum milenial lahir pada 1976-2001. Berdasarkan kalkulasi Badan Pusat Statistik (BPS), bonus demografi di Indonesia diprediksi akan terjadi antara 2020 hingga 2030.
 
"Begitu memasuki 2020, persentase penduduk usia produktif akan mencapai 70 persen dan non produktif 30 persen," ungkapnya.
 
Adapun pergeseran perilaku turut berubah beriringan dengan teknologi. Produk teknologi baru akan muncul sebagai akomodasi perubahan teknologi. Bahkan, sebuah negara yang berhasil bukan dinilai dari negara dengan penduduknya besar, tetapi adalah negara yang memiliki banyak inovasi, dan mereka yang memimpin dunia di masa datang.
 
"Kebutuhan menjadi generasi milenial pada era big data ini adalah kemampuan atau kekuatan membaca literasi. Artinya perguruan tinggi harus memberikan pembekalan pada mahasiswa dengan literasi data, yakni suatu kemampuan yang harus dimiliki mahasiswa dalam membaca analisis dan menggunakan informasi dari bank data dalam dunia digital," pungkasnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif