Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Relaksasi LTV Dongkrak Kepemilikan Apartemen

Ekonomi apartemen aturan ltv
Husen Miftahudin • 21 Desember 2018 17:05
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengklaim kebijakan relaksasi loan to value (LTV) berhasil mendorong gairah kepemilikan properti di Tanah Air. Paling tinggi, kebijakan ini mendongkrak pertumbuhan kredit pemilikan apartemen (KPA) untuk tipe 22-70 meter persegi.
 
"Kalau kita lihat kredit sektor perumahan yang meningkat cukup tinggi itu untuk apartemen tipe 22-70 meter persegi. Itu pemantauan kami pertumbuhan KPA untuk sektor kelompok ini sudah 40 persen year on year (yoy) untuk data (hingga) Oktober," ujar Perry di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Desember 2018.
 
Dia bilang, kebijakan relaksasi LTV lebih berpengaruh kepada KPA tipe 22-70 meter persegi. Sementara untuk KPA dengan tipe di atas 70 meter persegi, jelasnya, pertumbuhannya hanya 10 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada kredit pemilikan rumah (KPR) tapak, kebijakan relaksasi LTV disebut belum mengalami peningkatan signifikan. Adapun pertumbuhan KPR untuk tipe kecil, jelas Perry, hanya mengalami peningkatan sekitar 13-14 persen.
 
"Sebenarnya pertumbuhan KPR untuk tipe kecil cukup baik, kurang lebih 13-14 persen. Tetapi tidak secepat apartemen," imbuh dia.
 
Perry tak tahu pasti penyebab lambannya pertumbuhan KPR meski bank sentral sudah mengeluarkan kebijakan relaksasi. Kondisi tersebut membuat BI akan segera mengkaji relaksasi LTV yang diberlakukan mulai 1 Agustus 2018 lalu.
 
"Kita perlu kaji apakah itu karena faktor permintaan atau suplai. Kalau sektor perumahan dengan relaksasi yang kita lakukan cukup mendorong kepemilikan rumah baik pertama maupun investasi, tentu saja itu akan memberikan positif bagaimana properti di 2019, bagaimana nanti ekspektasi daya beli dari pendapatan masyarakat, bagaimana sektor ini dikembangkan oleh para korporat dan kreditnya oleh perbankan," kata Perry.
 
Oleh karena itu, BI bersama pemerintah akan lebih banyak mengeksplorasi relaksasi instrumen makroprudensial untuk mendorong sektor-sektor prioritas lainnya.
 
"Bisa mungkin sektor pariwisata, ekspor, UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Itu kita mengkaji kebijakan apa yang mendorong pembiayaan ke sektor-sektor itu. Pada waktunya kita akan diskusi lebih lanjut," tutup Perry.
 
Dalam relaksasi LTV, BI mengatur tiga hal. Pertama, untuk fasilitas kredit rumah pertama, bank sentral menyerahkan rasio LTV kepada perbankan. Sedangkan untuk fasilitas kredit rumah kedua dan berikutnya, LTV diatur pada kisaran 80-90 persen.
 
Kedua, BI memberi fasilitas kredit untuk rumah inden maksimal lima unit. Sebelumnya, BI membatasi fasilitas kredit rumah inden maksimal dua unit.
 
Ketiga, hingga pondasi selesai, pinjaman yang bisa dicairkan mencapai 50 persen. Kemudian setelah tutup atap, pinjaman yang dicairkan bisa mencapai 90 persen.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif