Kala BCA Geser DBS Jadi Bank Terbesar di Asia Tenggara

02 Maret 2016 11:42
medcom.id, Jakarta: PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kini memiliki valuasi saham lebih besar di Asia Tenggara. BCA berhasil menyalip DBS Group Holdings Ltd.
 
Berdasarkan laporan Bloomberg, bulan ini BCA memiliki kapitalisasi pasar mencapai USD24,5 miliar. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di kawasan. Sedangkan DBS asal Singapura hanya memiliki kapitalisasi USD24 miliar.
 
Bank yang berbasis di Jakarta ini terus mencatatkan kenaikan saham pada tahun ini. Jika melirik pergerakan sahamnya, bank dengan kode BBCA ini mencatatkan grafik relatif stabil dibandingkan dengan DBS.

Kinerja saham BBCA berbeda dari DBS yang sahamnya justru tertekan dalam. Pada penutupan, Jumat (12/2/2016), saham DBS turun ke level SGD13,03 per sahamnya. Kinerja saham ini mengantarkannya ke posisi terendah sejak 8 Juni 2012, saat posisinya masih berada di level SGD13,05 per lembar.
 
Turunnya saham DBS membuat kapitalisasi pasarnya anjlok hingga 37,8 persen sejak Agustus 2015, yaitu sebesar SGD40.571,7 juta atau sekitar USD34 miliar. Pada periode yang sama, kapitalisasi saham BBCA justru menunjukkan tren peningkatan sebesar 18,6 persen hingga Rp302.640,2 miliar.
 
Meningkatnya kapitalisasi pasar saham BCA ini cukup menggembirakan. Pasalnya, pada 2014 BCA masih menduduki peringkat lima setelah DBS Singapura, Maybank Malaysia, OCBC Singapura, dan UOB Singapura.
 
Kapitalisasi saham BCA pada awal 2014 baru mencapai USD22 miliar. Sementara nilai kapitalisasi DBS mencapai USD32,2 miliar, Maybank USD26,2 miliar, OCBC 26,1 miliar, dan UOB sebanyak USD26 miliar.
 
Meningkatnya kapitalisasi saham bank di Indonesia ini tak lepas dari masuknya dana asing ke pasar modal Indonesia. Maklum, saat ini komposisi investor lokal masih jauh tertinggal dibandingkan investor asing.
 
Dari sekitar 500 ribu investor di pasar modal, 63 persen didominasi asing. Sedangkan 37 persen berasal dari investor lokal.
 
Sejak awal tahun hingga 11 Februari, nilai beli bersih (net buy) investor asing di pasar saham mencapai Rp1,52 triliun. Di sepanjang tahun ini, dana asing diprediksi akan terus mengalir ke pasar modal Indonesia.
 
Padahal, di awal Januari, asing sempat menjauhi pasar saham domestik. Mereka kembali belanja saham di Bursa Efek Indonesia karena Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang bagus. Tak hanya itu, kondisi ekonomi global yang masih belum membaik membawa invetor asing memasuki emerging market.
 
Siap Bersaing
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, saham BCA memang bergerak cukup stabil, kala DBS membukukan penurunan. Jahja pun yakin, BCA siap menghadapi persaingan dengan bank asing di era MEA pada sektor perbankan yang mulai berlaku 2020.
 
BCA tidak berencana untuk berhenti sampai pada prestasi ini saja. Bank yang berdiri sejak 1957 ini sedang mempertimbangkan bisnis perpanjangan tangan kredit atau channeling.
 
BCA mengusulkan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui mitra, semisal Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Ketertarikan untuk menyalurkan KUR sejalan dengan kondisi likuiditas BCA yang berlimpah.
 
Skema yang ditawarkan untuk kredit berbunga adalah 9 persen, meski, BCA masih minim pengalaman di segmen kredit mikro. Maklum, tahun ini adalah pertama kali BCA menyalurkan KUR.
 
"Kami belum ada infrastruktur. Jadi, kalau boleh, kami salurkan KUR dalam bentuk channeling. Yang penting buat kami, hasilnya ada," kata Jahja.
 
BCA juga akan menggelar rencana pertumbuhan anorganik di 2016 ini. BCA mengagendakan untuk mengakuisisi bank skala kecil yang masuk kategori Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) I.
 
Rencana akuisisi tersebut sebenarnya telah tertuang sejak 2015, namun tertunda karena kondisi perlambatan ekonomi. “Kami masih menyiapkan dana sebesar Rp1,5 triliun untuk rencana tersebut,” kata Jahja.
 
Selain pertumbuhan anorganik, perusahaan membidik pertumbuhan kredit secara konservatif sebesar 10 persen di 2016 dan secara agresif sebanyak 15 persen. Pada tahun lalu, BCA membukukan pertumbuhan kredit sebesar 12 persen.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(NIN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan