Menteri Perdagangan, Industri dan Energi (MoTIE) Korea Selatan, Sung Yun Mo (kiri) bersama Menperin Airlangga Hartarto. (FOTO: dok Kemenperin)
Menteri Perdagangan, Industri dan Energi (MoTIE) Korea Selatan, Sung Yun Mo (kiri) bersama Menperin Airlangga Hartarto. (FOTO: dok Kemenperin)

Indonesia-Korsel Perkuat Kerja Sama Sektor Industri Prioritas 4.0

Ekonomi indonesia-korsel Revolusi Industri 4.0
Nia Deviyana • 27 Juni 2019 15:24
Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto menandatangani kerja sama lanjutan antara Kemenperin dengan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council for Economic, Humanities, and Social Sciences (NRC) Korea Selatan.
 
Kerja sama ini sebagai perjanjian turunan MoU terkait industri 4.0 yang telah ditandatangani pada 10 September 2018.
 
"Kerja sama lanjutan ini akan memfasilitasi penempatan tenaga ahli teknis, termasuk menyelenggarakan implementasi industri 4.0 yang bakal dilakukan di lima sektor industri, yakni otomotif, makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, kimia, dan elektronik," ujarnya melalui keterangan resminya, Kamis, 27 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Airlangga menuturkan ada banyak kemajuan yang positif terkait kerja sama Indonesia dengan Korea Selatan. Contohnya, perusahaan industri baja Posco yang telah berinvestasi dalam empat tahun terakhir untuk memproduksi tiga juta ton baja dari proses blast furnace hingga slab.
 
"Kami sedang diskusikan roadmap 10 juta baja di Cilegon untuk 2025, selanjutnya membangun downstream industri dengan produk seperti CRC," paparnya.
 
Tak hanya itu, secara umum tingkat implementasi kerja sama Kemenperin dengan mitra di Republik Korea sangat baik, yaitu sembilan dari 10 kesepakatan telah terimplementasikan. Adapun enam dari sepuluh kesepakatan itu di antaranya merupakan kerja sama antara unit di lingkungan Kemenperin dengan lembaga pemerintah di Korea.
 
Sementara itu, di industri kimia, Lotte Chemicals telah melakukan ground breaking pabrik dengan nilai investasi USD4 miliar. "Diharapkan pabrik ini beroperasi pada 2020. Sementara itu, kami berdiskusi dengan Hyundai Motor Corporation tentang rencana investasinya di Indonesia. Pada prinsipnya, kami memberikan dukungan untuk investasi ini," imbuhnya.
 
Airlangga berpendapat, kerja sama Korea dan Indonesia dapat dilakukan untuk mendalami struktur industri, terutama untuk mendukung industri ponsel dan IoT. Apalagi, dengan kondisi persaingan dagang saat ini, terdapat beberapa industri peralatan telekomunikasi yang berlomba untuk pasar 5G, termasuk perusahaan asal Korea.
 
Pada kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan, Industri dan Energi (MoTIE) Korea Selatan, Sung Yun Mo menyampaikan Indonesia merupakan negara mitra yang penting bagi Korea. Dengan terciptanya iklim usaha yang kondusif, sejumlah investasi industri asal Korea Selatan masih terus ekspansif.
 
"Mengenai Posco yang terus ekspansi di sektor industri baja, kami mengucapkan terima kasih karena proyeknya berjalan lancar. Kemudian, terkait Lotte, kami berharap terus mendapat dukungan untuk kelanjutannya. Melalui investasi ini, akan menopang pembangunan di Indonesia dan Korea. Jadi, ada hasil yang win-win," tuturnya.
 
Sung Yun Mo menambahkan, penguatan kerja sama kedua negara tidak hanya di sektor baja dan kimia, tetapi juga akan menyasar ke sektor otomotif. Hal ini penting karena dapat memperkuat daya saing industri di Indonesia.
 
"Kerja sama otomotif juga membuka kesempatan untuk penyedia komponen, dengan kebutuhan komponen kendaraan yang cukup banyak, ini bisa memperkuat juga IKM di Indonesia. Kerja sama ini sangat berarti, karena akan meningkatkan daya saing, dan berkontribusi terhadap ekosistem industri yang lebih sehat," pungkasnya.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif