NEWSTICKER
Pesawat perintis yang melayani penerbangan di pedalaman Papua - - Foto: MI/Marcel Kelen
Pesawat perintis yang melayani penerbangan di pedalaman Papua - - Foto: MI/Marcel Kelen

28 Rute Jembatan Udara Siap Beroperasi

Ekonomi harga sembako penerbangan
Ilham wibowo • 25 Februari 2020 19:22
Balikpapan: Sebanyak 28 rute jembatan udara siap beroperasi tahun ini. Rute tersebut menjangkau distrik-distrik di Provinsi Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua dengan tambahan wilayah Tanah Merah sebagai korwil baru.
 
Direktur Sarana Distribusi dan Logistik Kementerian Perdagangan Sihard Hadjopan Pohan mengatakan pembukaan rute ini merupakan kerja sama Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, Pemerintah Daerah, dan operator angkutan udara, serta otoritas bandara.
 
"Tahun ini pemerintah akan mengoperasikan 28 rute jembatan udara. Rakor ini digelar guna mendapatkan masukan dalam membuat kebijakan agar pelaksanaan kegiatan Gerai Maritim melalui pemanfaatan Jembatan Udara dapat lebih optimal dalam menekan disparitas harga," kata Sihard melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 25 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengoperasian rute jembatan udara ditetapkan berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan secara rutin. Menurut Sihard, penambahan dan pengurangan rute dilakukan berdasarkan usulan dari pemerintah daerah dan hasil evaluasi yang dilakukan setiap tahun.
 
"Dengan demikian, diharapkan pelaksanaan jembatan udara dapat semakin efektif dan memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat di daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan di Indonesia," ungkap Pohan.
 
Beberapa hal yang dibahas pada rakor tersebut juga terkait regulasi standar operasional prosedur pelaksanaan program jembatan udara terutama dalam hal kesiapan pesawat kargo, armada/pilot dan ketepatan jadwal. Kesiapan Pemda dalam hal pendataan, pemantauan dan evaluasi terhadap jumlah, jenis dan harga barang, serta pelaku Gerai Maritim yang akan memanfaatkan jembatan udara untuk optimalisasi muatan.
 
"Barang yang diangkut melalui jembatan udara diharapkan dapat terkoneksi dengan barang yang diangkut melalui tol laut dan subsidi angkutan barang di darat," tuturnya.
 
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Balikpapan Arzaedi Rachman mengatakan berjalannya jembatan udara menjadi momentum untuk pengendalian inflasi di kawasan Indonesia Timur. Rachman juga mengimbau para pelaku usaha agar dapat memaksimalkan pemanfaatan kapal pada muatan balik sehingga kapal tidak kosong dan bisa menutup biaya operasional.
 
Selain itu, Rachman mengusulkan pentingnya ketersediaan peta surplus dan defisit barang kebutuhan pokok dan barang penting (bapokting) dari setiap daerah. "Dengan adanya peta surplus dan defisit, efektivitas kerja sama antardaerah dapat semakin meningkat," imbuhnya.
 
Perwakilan Direktorat Angkutan Udara Kementerian Perhubungan Abdul Haris menambahkan empat kunci sukses pemanfaatan jembatan udara. Pertama, pemberian subsidi operasi (Angkutan Udara Perintis kargo dan Subsidi Angkutan Udara Kargo) untuk jembatan udara, baik sebagai kelanjutan tol laut atau tidak.
 
Kedua, peran Pemda untuk bisa mendorong daerahnya sehingga bisa lebih produktif berdasarkan potensinya sehingga tersedia muatan angkutan baliknya. Ketiga dan keempat, komitmen bersama dan koordinasi seluruh pihak terkait.
 
Selain pemanfaatan jembatan udara, rakor tersebut juga membahas Program Subsidi Angkutan Barang Perintis Darat. Program ini rencananya dimulai pada Maret 2020 yang merupakan cara menekan disparitas harga dan menjamin ketersedian bapokting di daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan.
 
"Program Subsidi Angkutan Barang Perintis Darat rencananya akan dimulai dengan 13 rute lintasan. Diharapkan angkutan darat akan terkoneksi dengan baik dengan tol laut dan jembatan udara. Sosialisasi lebih lanjut mengenai rencana program ini akan terus dilakukan," jelas Kasubdit Angkutan Barang, Direktorat Angkutan Jalan, Ditjen Perhubungan Darat, Kemenhub, Syaiful Bachri.
 
Adapun jembatan udara merupakan bagian dari program Gerai Maritim untuk meningkatkan kelancaran arus barang serta menurunkan disparitas harga. Cakupan wilayahnya yaitu daerah asal yang menjadi hub antara lain Timika, Wamena, Dekkai, Tanah Merah di Papua, Masamba di Sulawesi Selatan, dan Tarakan di Kalimantan Utara, dengan wilayah tujuan di sekitarnya yang hanya dapat dijangkau melalui transportasi udara.
 
Hasil evaluasi perkembangan harga 2019 oleh Dinas yang membidangi perdagangan menunjukkan, kegiatan Gerai Maritim melalui Pemanfaatan program Jembatan Udara berdampak positif bagi masyarakat. Rata-rata harga bapokting di beberapa daerah lebih rendah jika dibandingkan dengan harga barang sebelum dikirimkan melalui program jembatan udara.
 
Perbedaan harga tertinggi terjadi pada komoditas beras turun sebesar 64-65 persen di Distrik Jila, Ilama, dan Hareapini; minyak goreng turun sebesar 66,67 persen di Distrik Jila dan Alama; telur ayam turun sebesar 66 persen di Distrik Long Apung; gula pasir turun sebesar 64 persen di Distrik Alama; garam turun sebesar 53,33 persen di Long Bawan; dan semen turun sebesar 31,37 persen di Wamena.
 
Pemanfaatan Gerai Maritim melalui jembatan udara merupakan implementasi dari amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan pasal 25. Peraturan tersebut mengamanatkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah mengendalikan ketersediaan barang kebutuhan pokok dan barang penting di seluruh wilayah Indonesia dalam jumlah yang memadai, mutu yang baik, dan harga yang terjangkau.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif