Direktur Cigna Indonesia Phil Reynolds (paling kiri). (FOTO: dok Cigna)
Direktur Cigna Indonesia Phil Reynolds (paling kiri). (FOTO: dok Cigna)

Survei: Kesejahteraan Masyarakat Indonesia Meningkat

Ekonomi ekonomi indonesia kesejahteraan
Ade Hapsari Lestarini • 26 Maret 2019 17:47
Jakarta: Perusahaan penyedia jasa kesehatan Cigna Corporation merilis Survei Skor Kesejahteraan 360 tentang persepsi kesejahteraan masyarakat di 22 negara. Dalam survei global terhadap 13.200 responden pada awal 2019, kesejahteraan mengacu pada lima pilar utama yakni fisik, keluarga, sosial, keuangan, dan pekerjaan.
 
"Dari hasil survei tahun ini, tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat hingga berhasil masuk ke jajaran lima besar indeks kesejahteraan global. Padahal, tahun lalu, Indonesia berada di urutan ke-14," ujar Direktur Cigna Indonesia Phil Reynolds dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 26 Maret 2019.
 
Reynolds mengatakan Cigna melakukan Survei Skor Kesejahteraan 360 setiap tahun. Di mana dalam survei kelima kali ini, skor kesejahteraan masyarakat Indonesia berada di peringkat keempat dengan indeks kesejahteraan yang melompat 4,4 poin dari 61,0 menjadi 65,4.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Indonesia berhasil keluar dari jajaran 10 negara dengan persepsi kesejahteraan terendah," kata dia.
 
Chief Marketing and Strategic Partnership Officer Cigna Indonesia Akhiz Nasution mengatakan, berkaca dari survei itu Cigna Indonesia menyiapkan produk-produk proteksi yang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia.
 
"Pasar di Indonesia penetrasinya masih sangat kecil, baru sekitar dua persen. Lewat survei ini, kami bisa memberi kontribusi positif. Produk-produk yang kami keluarkan disesuaikan dengan kebutuhan. Sesuai misi kami, ingin mendukung masyarakat Indonesia dalam meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan rasa aman," papar Akhiz.
 
Fokus Cigna tetap menyediakan solusi holistik dari seluruh dimensi kesehatan dan mendorong masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan terbaik dalam perjalanan kehidupan mereka. Ia menjelaskan, dalam survei itu terungkap, semakin banyak reponden yang merasa mereka berhasil menjaga makan agar tetap sehat, memiliki waktu untuk berolahraga, berat badan ideal, dan tidur yang cukup.
 
"Masyarakat Indonesia juga merasa mereka semakin mampu menjaga kesejahteraan keluarga mereka, dilihat dari kemampuan menjaga kesehatan dan menjamin keuangan pasangan, anak, dan orang tua mereka. Indeks kenaikan tertinggi terlihat dari kepercayaan diri masyarakat Indonesia dalam menjamin kesejahteraan dan pendidikan anak mereka, poinnya naik 15 poin, dari 40 menjadi 55,” tutur Akhiz.
 
Masyarakat Indonesia Percaya Diri soal Keuangan
 
Di sisi lain, secara keuangan masyarakat Indonesia semakin percaya diri. Hal itu dilihat dari kemampuan mereka membayar kebutuhan edukasi keluarga mereka. Dalam survei pun terungkap, semakin banyak masyarakat Indonesia yang merasa puas dengan paket gaji dan kompensasi dari tempat mereka bekerja, meskipun hal tersebut harus dibayar dengan bertambahnya tanggung jawab di kantor.
 
Akhiz melanjutkan mayoritas masyarakat Indonesia atau sebanyak 76 persen mengungkapkan bahwa kantor mereka menyediakan program-program kesejahteraan seperti klub kesehatan, olahraga, kelas sharing, dan lain-lain. Angka ini cukup tinggi ketimbang rata-rata global yang hanya 46 persen. Hampir setengah responden (48 persen) juga mengungkapkan kantor mereka menyediakan sarana dan dukungan untuk mengurangi stres, angkanya cukup tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya 28 persen.
 
Terkait usia tua, masyarakat Indonesia memiliki waktu yang cukup singkat dalam mempersiapkan usia tua, karena mayoritas responden menyebut masa tua dimulai pada usia 57 tahun. Indonesia adalah negara dengan jawaban usia tua terendah. Dalam survei, rata-rata global menyebut usia tua dimulai pada 63 tahun. Meskipun sudah merasa tua di usia yang relatif muda, 64 persen masyarakat Indonesia merasa sudah siap secara finansial menghadapi usia tua, dibandingkan responden global yang hanya 38 persen yang siap.
 
"Selain itu, hampir 80 persen masyarakat di Indonesia siap menyambut usia tua yang aktif dan sehat. Ini sebuah fakta yang cukup positif mengingat perekonomian negara bisa terbantu dengan banyaknya masyarakat usia tua yang sehat dan ingin tetap memberikan kontribusi," tutur Akhiz.
 
Tak hanya siap secara fisik, tambahnya, ternyata 87 persen masyarakat Indonesia juga merasa siap secara mental dalam menghadapi usia tua. Lebih dari setengah masyarakat Indonesia ingin terus bekerja di usia tua karena beragam alasan, salah satunya agar tetap up to date dengan kondisi terkini, ingin tetap sibuk, serta ingin memberikan panduan dan nasihat kepada pekerja yang lebih muda.
 
Menurut survei, para pekerja muda pun antusias untuk bekerja bersama generasi yang lebih tua. Sebanyak 69 persen dari responden usia muda di Indonesia mengatakan mereka mau bekerja bersama generasi yang lebih tua. Di negara lain yang disurvei, hanya sepertiga perusahaan yang berkenan mempekerjakan generasi yang lebih tua. Namun di Indonesia, lebih dari setengah perusahaan justru bersedia mempekerjakan usia tua.
 
Survei itu juga mengangkat tentang kesadaran masyarakat akan kesehatan jantung. Terungkap, sebanyak 57 persen responden di Indonesia mengatakan mereka mengetahui besaran BMI (Body Mass Index) mereka. Angka itu di atas rata-rata global yang hanya 51 persen.
 
Sementara itu, 84 persen responden mengaku tahu tekanan darah mereka. Angka itu di atas rata-rata global yang hanya 66 persen. Hal ini menunjukkan masyarakat Indonesia cukup memahami pentingnya mengetahui faktor-faktor yang mengindikasikan kondisi kesehatan mereka. Meski demikian, mayoritas orang Indonesia pernah mengalami setidaknya dua indikasi penyakit jantung yaitu sakit di dada dan sesak nafas. Yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari dua indikasi penyakit jantung itu mereka rasakan selama enam bulan terakhir. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya 1,5 indikasi.
 
Tingkat Stres Perempuan Indonesia
 
Direktur HR Cigna Indonesia Nefo Luhur Dradjati Nefo Luhur Dradjati memaparkan survei tersebut juga mengungkap tentang tingkat stres pada perempuan di Indonesia. Meskipun tingkat stres di Indonesia lebih rendah dibandingkan negara-negara lain yang disurvei (77 persen dibandingkan 84 persen).
 
Di Indonesia, perempuan bekerja merasa lebih stres dibandingkan pria bekerja yaitu 84 persen di Indonesia dibandingkan 76 persen secara global. Biasanya, perempuan stres karena tekanan pekerjaan, memikirkan kondisi keuangan keluarga, dan keuangan pribadi. Hanya satu dari tiga perempuan yang merasa percaya diri akan kondisi keuangan mereka.
 
"Meskipun pria masih dianggap sebagai pencari nafkah utama, perempuan pekerja merasa mereka tetap harus berkontribusi terhadap keuangan keluarga," kata dia.
 
Dia menambahkan, jumlah perempuan bekerja di Indonesia terus meningkat. Oleh karena itu, program kesejahteraan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Perempuan bekerja harus merasa mendapat dukungan penuh dari perusahaan.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif